Melawan Api Bersama: Sinergi PetroChina, TNI-Polri, dan Warga Selamatkan Kebun dari Karhutla

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tanjung Jabung, Jambi, ruangenergi.com-Musim kemarau belum mencapai puncaknya, namun ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah mulai menguji kesiapsiagaan berbagai pihak di Provinsi Jambi.

Dalam hitungan hari, dua wilayah berbeda—Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat—menjadi saksi bagaimana sinergi antara perusahaan, aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat mampu menghentikan kobaran api sebelum berubah menjadi bencana yang lebih besar.

Di Desa Lagan, Dusun Sepakat Indah, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kebakaran melanda sekitar 3 hektare lahan sawit. Malam itu, suasana gelap diterangi sorot lampu kendaraan dan senter para petugas yang berjibaku melawan api.

Dikutip dari instagram @petrochina_id, PetroChina International Jabung Ltd bergerak bersama personel TNI, Polri, pemerintah desa, serta masyarakat setempat. Dengan koordinasi yang cepat, tim gabungan bekerja hingga api berhasil dikendalikan, mencegahnya merambat ke area lain yang berpotensi menimbulkan kerusakan lebih luas.

Tak berselang lama, semangat kolaborasi yang sama kembali terlihat di Desa Lubuk Terentang, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kali ini, kobaran api mengancam area perkebunan milik warga.

Begitu laporan diterima, tim gabungan segera bergerak menuju lokasi dengan mengerahkan mobil pemadam kebakaran. Personel perusahaan, aparat kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat bahu-membahu memadamkan api hingga situasi berhasil diamankan. Respons cepat tersebut menjadi penentu sehingga kebakaran tidak sempat meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Dua peristiwa ini memperlihatkan satu benang merah yang sama: karhutla tidak mengenal batas wilayah, tetapi juga tidak bisa dihadapi sendirian.

Ketika perusahaan, aparat, pemerintah, dan warga berdiri dalam satu barisan, waktu respons menjadi lebih singkat, koordinasi lebih efektif, dan peluang menyelamatkan lingkungan menjadi jauh lebih besar. Gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia kembali membuktikan perannya dalam menghadapi ancaman bencana.

Bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, keterlibatan dalam penanganan karhutla bukan sekadar menjalankan tanggung jawab operasional. Kehadiran mereka di garis depan menunjukkan komitmen untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus melindungi ekosistem di sekitar wilayah kerja.

Kesiapsiagaan ini menjadi semakin penting mengingat Jambi tengah memasuki periode paling rawan kebakaran. Puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September membuat seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan melalui patroli rutin, penyiapan personel dan peralatan, hingga penguatan koordinasi lintas instansi.

Namun, memadamkan api hanyalah satu bagian dari upaya pengendalian karhutla. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif. Edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar terus digencarkan, disertai patroli di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Pengalaman di Jabung Timur dan Jabung Barat menjadi bukti bahwa keberhasilan menghadapi karhutla bukan hanya bergantung pada kecanggihan peralatan, tetapi juga pada kecepatan bertindak dan kekuatan kolaborasi. Ketika setiap pihak mengambil peran sesuai kapasitasnya, api dapat dipadamkan lebih cepat, kebun warga dapat diselamatkan, dan risiko kerusakan lingkungan dapat ditekan.

Di tengah musim kemarau yang masih panjang, semangat gotong royong itu menjadi harapan terbesar. Sebab dalam menghadapi karhutla, menjaga alam adalah tanggung jawab bersama, dan kolaborasi adalah senjata paling ampuh untuk melindungi masyarakat serta masa depan lingkungan Jambi.