Mengintip Harapan Baru Migas Indonesia, SAKA Genjot Eksplorasi WK Pekawai

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah kebutuhan menjaga pasokan energi nasional, PT Saka Energi Indonesia (SAKA) terus menggeber langkah eksplorasi untuk menemukan sumber daya minyak dan gas bumi (migas) baru. Salah satu fokusnya berada di Wilayah Kerja (WK) Pekawai, Kalimantan Timur, yang dinilai menyimpan prospek menjanjikan dan berpotensi menjadi penopang produksi migas Indonesia pada masa depan.

Sebagai bagian dari PGN Subholding Gas Pertamina, SAKA menargetkan pengeboran satu sumur eksplorasi pada kuartal III 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membuka cadangan migas baru sekaligus mendukung target ketahanan energi nasional.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA, Fuji Koesumadewi, mengatakan WK Pekawai merupakan salah satu aset eksplorasi strategis yang terus dikembangkan secara bertahap dan terukur.

“WK Pekawai merupakan salah satu aset eksplorasi strategis SAKA yang memiliki prospek cukup menjanjikan. Melalui berbagai kegiatan eksplorasi yang dilakukan secara bertahap dan terukur, kami berupaya memaksimalkan potensi migas di wilayah kerja ini,” ujarnya.

WK Pekawai sendiri memiliki luas sekitar 1.555 kilometer persegi yang mencakup wilayah darat (onshore) dan lepas pantai (offshore). Sejak dipercaya pemerintah melalui SKK Migas sebagai operator dengan skema gross split pada 16 Mei 2018, SAKA terus mengintensifkan berbagai kegiatan eksplorasi di wilayah tersebut.

Upaya itu dimulai dari studi geologi dan geofisika yang berhasil mengidentifikasi dua prospek utama, yakni Prospek Saka Manpatu (SM)-1 dan Prospek Hanna di wilayah offshore. Sejak 2022, SAKA juga menjalin sinergi dengan Pertamina Hulu Mahakam (PHM) untuk mematangkan kedua prospek tersebut sebelum memasuki tahap pengeboran.

Komitmen tersebut semakin diperkuat setelah pemerintah menyetujui Perpanjangan Jangka Waktu Eksplorasi (PJWE) hingga 15 Mei 2028. Perpanjangan ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menjalankan program eksplorasi secara lebih komprehensif.

Memasuki 2026, SAKA memperoleh persetujuan dari PGN untuk melakukan pengeboran sumur appraisal SM-1 dengan target kedalaman sekitar 12.000 kaki. Pengeboran ini menjadi bagian dari pemenuhan komitmen pasti eksplorasi sekaligus diharapkan mampu membuktikan keberadaan sumber daya migas di WK Pekawai.

Jika hasilnya positif, temuan tersebut berpotensi dikembangkan melalui skema unitisasi dengan wilayah operasi Pertamina Hulu Mahakam sehingga pengembangan lapangan dapat dilakukan secara lebih efisien.

Selain pengeboran, SAKA juga tengah melaksanakan survei geologi dan geokimia di wilayah darat sebagai bagian dari rangkaian kegiatan geologi dan geofisika (G&G) yang ditargetkan selesai pada 2026.

“Rencana pengeboran sumur eksplorasi menjadi salah satu tonggak penting untuk membuktikan potensi sumber daya yang ada sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut,” kata Fuji.

Optimisme terhadap WK Pekawai bukan tanpa alasan. Secara geologi, wilayah kerja ini memiliki kesinambungan dengan Lapangan Manpatu yang dikelola PHM dan telah memiliki Plan of Development (POD). Diperkirakan sekitar 10–24 persen struktur Lapangan Manpatu berada di dalam area WK Pekawai, sehingga sistem hidrokarbon yang telah terbukti di lapangan tersebut diyakini masih berlanjut ke wilayah kerja SAKA.

Posisi WK Pekawai yang berada di antara sejumlah lapangan migas produktif seperti Manpatu, East Mandu, dan Jempang Metulang juga semakin memperkuat prospeknya sebagai salah satu wilayah eksplorasi yang menjanjikan.

Dengan strategi eksplorasi yang semakin agresif, SAKA berharap WK Pekawai dapat menjadi sumber cadangan migas baru yang tidak hanya memperpanjang umur produksi nasional, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan energi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri.