Menggali Potensi, Menggerakkan Energi: PEP Sangasanga Siapkan Generasi Muda Hadapi Tantangan Migas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Samarinda, Kaltim, ruangenergi.com – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya membutuhkan teknologi canggih dan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga generasi muda yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan energi masa depan.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Upstream Youth Champs (UYC) 2026 yang digelar di kampus Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Kalimantan Timur, pada 27 Oktober 2026. Melalui kegiatan bertema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi” ini, PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga mengajak mahasiswa mengenal lebih dekat industri hulu migas sekaligus menggali potensi diri untuk mempersiapkan masa depan karier mereka.

Program yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ini menjadi ruang edukasi dan interaksi langsung antara pelaku industri dan mahasiswa. Tujuannya, memperluas pemahaman generasi muda mengenai peran strategis industri hulu migas dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Alumni Polnes berbagi pengalaman di industri migas

Salah satu narasumber yang hadir adalah Alfian Dinata, alumni Politeknik Negeri Samarinda yang kini menjabat Sr. Supervisor North Mahakam Production PEP Sangasanga Field.

Di hadapan para peserta yang merupakan adik-adik almamaternya, Alfian berbagi pengalaman mengenai dinamika operasional industri hulu migas, sekaligus menjelaskan posisi strategis PHE sebagai subholding upstream Pertamina.

Menurut Alfian, kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak dan gas bumi merupakan tahapan awal dalam rantai bisnis energi. Hasil produksi tersebut selanjutnya diolah dan didistribusikan agar dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bakar maupun produk lainnya.

“PHE menjalankan peran strategis dalam mengelola kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak dan gas bumi bagi Indonesia. Aktivitas tersebut merupakan tahapan awal dalam rantai bisnis energi sebelum hasil produksi diolah dan didistribusikan sebagai bahan bakar dan produk lainnya hingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Alfian menilai, pemahaman mengenai industri hulu migas masih perlu diperluas, termasuk di kalangan mahasiswa. Pasalnya, masyarakat kerap memandang seluruh aktivitas bisnis di lingkungan Pertamina memiliki fungsi yang sama.

Padahal, setiap anak perusahaan memiliki tugas, tanggung jawab, serta tantangan operasional dan bisnis yang berbeda.

Melalui UYC 2026, mahasiswa diajak memahami perbedaan kegiatan hulu, midstream, dan downstream, sekaligus mengenali bagaimana setiap tahapan tersebut saling terhubung dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

Kompetensi lintas bidang jadi bekal generasi muda

Selain mengenal proses bisnis migas, mahasiswa juga mendapatkan wawasan mengenai pentingnya pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan industri energi.

Vina Muliana, HR Practitioner sekaligus Content Creator, membahas pentingnya pengembangan kompetensi teknis dan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja yang terus berkembang.

Menurutnya, peluang untuk berkontribusi di dunia profesional tidak terbatas pada bidang pendidikan atau keahlian yang sedang ditekuni seseorang.

Kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, kerja sama tim, dan adaptasi menjadi kompetensi pendukung yang semakin penting dalam menghadapi tantangan pekerjaan.

“Berbagai kompetensi lintas bidang, seperti komunikasi, pemecahan masalah, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi, juga menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan profesional,” paparnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa perlu mempersiapkan diri secara menyeluruh, tidak hanya mengandalkan kemampuan akademis, tetapi juga mengasah keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja.

Kampus dorong mahasiswa jadi bagian dari industri energi

Ketua Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda, Ir. Ibnu Eka Rahayu, S.ST., MT., IPM., menyambut baik penyelenggaraan UYC 2026.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mengenali potensi diri sekaligus memahami kebutuhan industri hulu migas.

Ia berharap wawasan yang diperoleh mahasiswa dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuan selama menempuh pendidikan di kampus, sehingga kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

“Mahasiswa dapat mengembangkan diri melalui pengetahuan yang diasah sesuai minat dan bakat selama menempuh pendidikan di kampus. Namun, pengetahuan tersebut akan menjadi semakin berarti ketika dapat diwujudkan menjadi kontribusi dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara,” ungkapnya.

Energi masa depan bertumpu pada kualitas manusia

Tema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi” membawa pesan bahwa keberlanjutan energi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, sumber daya alam, maupun besarnya produksi migas.

Kualitas sumber daya manusia yang berada di balik setiap proses juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan industri energi.

Melalui kegiatan ini, PEP Sangasanga berharap mahasiswa dapat melihat industri hulu migas sebagai ruang untuk mengembangkan kompetensi, menyalurkan potensi, dan mengambil bagian dalam pembangunan energi nasional.

PEP Sangasanga Field merupakan bagian dari Zona 9 Subholding Upstream Regional 3 Kalimantan yang dikelola PT Pertamina Hulu Indonesia.

Bersama SKK Migas, PEP Sangasanga juga menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, dan tanggap bencana.

Program-program tersebut diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).