MNK Rokan, Tonggak Baru Pertamina Buka Jalan Migas Nonkonvensional Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Pertamina mulai membuka babak baru dalam pengembangan minyak dan gas bumi nonkonvensional (MNK) di Indonesia.

Langkah itu ditandai dengan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan melalui PT PHE Rokan Nonkonvensional, anak usaha PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), bagian dari Subholding Upstream Pertamina.

Bagi industri hulu migas nasional, momentum tersebut bukan sekadar penandatanganan kontrak. MNK Rokan diposisikan sebagai pionir sekaligus proyek pembuktian bahwa sumber daya migas nonkonvensional di Indonesia dapat dikembangkan secara komersial.

Pengembangan MNK menjadi salah satu strategi Pertamina untuk mencari sumber pertumbuhan produksi baru ketika lapangan-lapangan migas konvensional memasuki fase semakin matang.

Di Rokan, perjalanan itu sebenarnya telah dimulai beberapa tahun lalu.

PHR melakukan pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024. Kedua sumur tersebut menjadi bagian dari studi untuk menguji potensi MNK pada struktur North Aman.

Hasil pemboran dan pengujian semakin memperkuat keyakinan terhadap potensi MNK di kawasan tersebut.

Struktur North Aman diperkirakan memiliki recoverable resources sekitar 724 juta barel setara minyak (MMBOE). Angka tersebut menjadi basis bagi PHR untuk melanjutkan tahapan appraisal guna memastikan besaran sumber daya sekaligus mengukur potensi pengembangannya secara lebih konkret.

North Aman pun berpotensi menjadi pintu masuk menuju pengembangan MNK yang lebih luas di Wilayah Kerja Rokan.

Sejumlah struktur lain seperti South Aman, Rangau, dan Balam juga disebut memiliki peluang untuk dikembangkan.

Bukan Sekadar Mengebor Sumur

Tantangan MNK tidak berhenti pada menemukan sumber daya.

Pengembangan migas nonkonvensional membutuhkan teknologi, metode pengeboran dan completion yang berbeda, stimulasi reservoir, kemampuan subsurface, hingga rantai pasok yang mampu mendukung kegiatan operasi secara efisien.

Di titik inilah Rokan memiliki keunggulan.

Ekosistem operasi yang telah terbentuk selama puluhan tahun—mulai dari infrastruktur produksi, fasilitas pendukung, akses operasi hingga supply chain—menjadi modal penting untuk mengembangkan MNK secara bertahap.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menilai MNK Rokan menjadi langkah penting untuk membuka sumber pertumbuhan produksi baru di tengah semakin matangnya lapangan migas konvensional.

Menurut Djoko, besarnya potensi sumber daya harus segera diterjemahkan menjadi cadangan dan produksi nyata.

“Rokan kita dorong menjadi pionir sekaligus pembuktian bahwa Migas Non Konvensional dapat dikembangkan secara komersial di Indonesia,” kata Djoko.

Ia menegaskan percepatan appraisal, penerapan teknologi yang tepat serta dukungan keekonomian dan regulasi menjadi faktor penting agar sumber daya tersebut dapat segera bergerak menuju tahap produksi.

“Potensinya sudah kita lihat, regulasi dan insentif juga telah disiapkan. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana seluruh tahapan dapat berjalan lebih cepat sampai menghasilkan produksi,” ujarnya.

Menurut Djoko, keberhasilan Rokan nantinya tidak hanya berdampak terhadap produksi nasional, tetapi juga dapat menjadi model bagi pengembangan MNK di wilayah lain.

Pertamina Bangun Ekosistem MNK

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menekankan bahwa proyek MNK Rokan bukan semata-mata tentang pengeboran sumur.

Ada ekosistem besar yang harus dibangun.

“Yang kita bangun bukan hanya sumurnya, tetapi ekosistemnya,” ujar Oki.

Ekosistem tersebut mencakup kemampuan subsurface, drilling dan completion, stimulasi, teknologi, supply chain hingga sumber daya manusia.

Menurutnya, karakter pengembangan MNK berbeda dengan migas konvensional. Karena itu, Rokan menjadi titik awal bagi Pertamina dan Indonesia untuk membangun learning curve dalam pengembangan MNK.

Jika keekonomian semakin kompetitif dan ekosistem berhasil dibangun, pengalaman dari Rokan dapat direplikasi ke wilayah-wilayah lain yang memiliki potensi MNK.

“Inilah langkah awal menuju pengembangan MNK Indonesia dalam skala yang lebih besar,” kata Oki.

Regulasi Mulai Membuka Jalan

Percepatan pengembangan MNK Rokan juga mendapatkan dukungan dari sisi regulasi.

Kementerian ESDM telah menerbitkan Kepmen ESDM Nomor 246.K/MG.04/MEM.M/2026 tentang Percepatan Pelaksanaan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Wilayah Kerja Rokan.

Kebijakan tersebut memberikan kepastian regulasi dan fiskal bagi kontraktor, termasuk kemudahan komersialisasi produksi MNK.

Salah satu instrumen yang disiapkan adalah skema cost recovery dengan split adaptif serta insentif investasi.

Skema tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara daya tarik investasi dan penerimaan negara sekaligus memberikan ruang bagi keberlanjutan proyek yang memiliki tantangan teknis dan keekonomian lebih kompleks.

Dengan demikian, tantangan MNK kini bukan lagi semata-mata soal ada atau tidaknya sumber daya.

Pertanyaan besarnya adalah: seberapa cepat sumber daya tersebut dapat berubah menjadi cadangan dan akhirnya produksi komersial?

PHE: Potensi Besar untuk Produksi Nasional

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Sunaryanto mengatakan PHE optimistis pengembangan MNK Indonesia dapat memberikan kontribusi terhadap produksi minyak nasional di masa mendatang.

“Pengembangan MNK memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi minyak di dalam negeri,” ujarnya.

Optimisme tersebut sejalan dengan strategi Subholding Upstream Pertamina yang terus mencari sumber-sumber produksi baru untuk menopang ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Direktur Utama PHR Muhamad Arifin menilai penandatanganan KBH MNK Rokan merupakan momentum strategis.

Menurut dia, MNK bukan sekadar proyek eksplorasi, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun fondasi baru ketahanan energi sekaligus kompetensi baru di sektor hulu migas Indonesia.

“MNK bukan hanya proyek eksplorasi, melainkan fondasi baru yang akan menjadi investasi strategis untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan membangun kompetensi baru di hulu migas di Indonesia,” kata Arifin.

Dengan dukungan regulasi, infrastruktur yang telah tersedia dan roadmap menuju komersialisasi, MNK Rokan diharapkan menjadi game changer bagi industri hulu migas nasional.

Jika berhasil, Rokan bukan hanya menghasilkan minyak dan gas.

Rokan akan menghasilkan pengalaman, teknologi, kompetensi, dan model bisnis baru yang dapat membuka pintu bagi pengembangan MNK di berbagai wilayah Indonesia.

Pada akhirnya, keberhasilan MNK Rokan akan ditentukan oleh satu hal: kemampuan seluruh pemangku kepentingan mempercepat perjalanan dari resource menjadi reserve, lalu menjadi production.

Jika tahapan itu berhasil dilewati, babak baru migas Indonesia benar-benar telah dimulai dari Rokan.