Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— PT Pertamina Hulu Energi (PHE) terus membuka peta peluang bisnis hulu migas di luar negeri. Kali ini, mata PHE mengarah ke kawasan Amerika Selatan, khususnya Guyana dan Suriname, yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu kawasan paling prospektif dalam industri migas global.
Menurut sumber ruangenergi.com yang bercerita di sela-sela acara Simposium IATMI, Selasa (15/09/2026), diceritakannya bahwa PHE membidik beberapa opportunity untuk masuk ke kawasan tersebut. Salah satu opsi yang tengah menjadi perhatian adalah berpartner dengan Petronas.
Peluang menggandeng Petronas menjadi menarik karena perusahaan migas asal Malaysia tersebut telah memiliki pijakan yang cukup kuat di kawasan Guyana-Suriname Basin.
Petronas bahkan telah mengembangkan portofolio yang signifikan di Suriname. Pada 2025, Petronas menandatangani PSC untuk Blok 9 dan 10 bersama Chevron, QatarEnergy dan Staatsolie. Petronas juga telah memiliki kepentingan di sejumlah blok offshore lainnya di Suriname.
Terbaru, pada Juni 2026, Petronas melaporkan dua penemuan baru dan satu keberhasilan appraisal di Block 52 Suriname. Secara kumulatif, perusahaan menyebut telah mencatat delapan sumur sukses dengan sumber daya recoverable lebih dari 1 miliar barel setara minyak.
Jejak tersebut membuat Petronas memiliki pengetahuan teknis, pengalaman operasi dan jaringan bisnis yang dapat menjadi modal penting apabila PHE memilih skema kemitraan untuk memasuki kawasan tersebut.
Penjajakan PHE ini juga mendapat konteks strategis dari pemerintah.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa Indonesia sedang mengkaji peluang investasi pada sumber minyak baru di Amerika Latin, tepatnya di Guyana dan Suriname, sebagai salah satu alternatif untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI Grata Endah Werdaningtyas mengatakan Pertamina sudah melakukan penjajakan kerja sama eksplorasi sekaligus investasi di sektor hulu migas di kedua negara tersebut.
“Pertamina sudah melakukan penjajakan untuk kerja sama eksplorasi di kawasan ini serta investasi di sektor hulu migas Guyana dan Suriname,” kata Grata dalam temu media di Jakarta, Senin.
Sebelumnya, PHE juga telah menyatakan adanya peluang di Suriname. Pada 2025, Direktur Eksplorasi PHE Muharram Jaya Panguriseng mengungkapkan bahwa PHE mendapat tawaran untuk mengoperasikan blok migas di negara tersebut dan masih mengkaji sejumlah aspek sebelum mengambil keputusan. Pertamina sendiri disebut tengah mengeksplorasi peluang kerja sama hulu migas di kawasan Amerika Latin dan Karibia, dengan fokus antara lain Suriname, Guyana dan Brasil.
Mengapa Guyana-Suriname?
Guyana-Suriname Basin kini menjadi salah satu kawasan eksplorasi yang paling diperhatikan dunia. Keberhasilan eksplorasi offshore telah mendorong masuknya perusahaan-perusahaan migas besar dan membentuk ekosistem baru di kawasan tersebut.
Bagi PHE, masuk ke wilayah ini bisa menjadi bagian dari strategi mencari sumber daya baru (new resources) sekaligus memperbesar portofolio internasional.
Namun, PHE tidak harus selalu masuk sebagai operator. Pilihannya dapat berupa farm-in, mengambil participating interest, mengikuti proyek bersama mitra, atau membangun konsorsium dengan perusahaan yang sudah memiliki pengalaman dan aset di kawasan.
Di sinilah peluang kerja sama dengan Petronas menjadi menarik.
Petronas bukan hanya memiliki pengalaman di Suriname, tetapi juga telah memperluas jejaknya ke Guyana. Dalam laporan terintegrasinya, Petronas menyebut telah mencatat masuk ke Guyana melalui Block S4, sekaligus memperluas portofolio eksplorasinya di Suriname.
Dengan demikian, jika penjajakan PHE berlanjut, kemitraan Pertamina-Petronas di Amerika Selatan bukan lagi sekadar wacana ekspansi, tetapi berpotensi menjadi salah satu model masuk ke basin migas yang sedang tumbuh tersebut.
Bagi Indonesia, langkah ini juga memiliki arti lebih besar: mencari sumber minyak baru di luar negeri untuk memperkuat ketahanan energi nasional, ketika produksi domestik menghadapi tantangan penurunan alamiah dan kebutuhan energi terus meningkat.


