PGN Bidik Harta Karun Gas 9,7 TCF di Tanjung Enim, Siap Kurangi Impor Energi Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pagardewa, Sumsel, ruangenergi.com-PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mulai menggarap salah satu potensi gas non-konvensional terbesar di Indonesia. Melalui pengembangan Coalbed Methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, PGN membidik cadangan gas sebesar 9,7 triliun kaki kubik (TCF) yang diperkirakan memiliki nilai ekonomi mencapai US$15,4 miliar.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi PGN sebagai Subholding Gas Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto mengatakan, pengembangan CBM membuka peluang besar untuk memonetisasi sumber daya gas non-konvensional yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Potensi CBM Tanjung Enim dapat menjadi sumber pasokan baru bagi industri maupun pembangkit listrik. PGN telah menyiapkan skema teknis dan komersial agar gas tersebut dapat segera dimanfaatkan,” ujarnya.

Menurut PGN, penyaluran gas dari proyek ini ditargetkan tumbuh secara bertahap, mulai 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga mencapai 25 MMSCFD seiring meningkatnya produksi.

KSP Kawal Percepatan Hilirisasi CBM

Komitmen percepatan proyek ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Pada Jumat (3/7/2026), Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman bersama jajaran melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Penerima Gas (SPG) dan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pagardewa.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainudin, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Edward Candra, Sekretaris Daerah Kabupaten Muara Enim Yulius, Anggota DPRD Muara Enim Jonidi, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Kunjungan itu bertujuan memastikan proyek-proyek prioritas nasional di sektor energi berjalan sesuai target, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan produksi energi domestik dan pengurangan impor.

Dudung menegaskan pengembangan Gas Metana Batubara (CBM) Muara Enim memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional. Meski masih terdapat beberapa penyelesaian administratif, seperti penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), seluruh pihak sepakat mendorong percepatan proyek agar segera memasuki tahap komersialisasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Tak Hanya CBM, PGN Bidik Biomethane dan SNG

PGN tidak hanya mengandalkan CBM sebagai sumber energi masa depan. Perusahaan juga mengembangkan potensi biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit serta Synthetic Natural Gas (SNG). Ketiga sumber energi tersebut dinilai memiliki potensi besar di Sumatera Selatan.

Untuk mengoptimalkan seluruh sumber pasokan tersebut, PGN tengah membangun injection point, yaitu infrastruktur yang berfungsi sebagai titik pengumpulan gas sebelum dialirkan ke jaringan pipa transmisi nasional.

“Infrastruktur ini akan mengintegrasikan gas dari CBM, biomethane maupun sumber lainnya sebelum dimasukkan ke jaringan pipa yang sudah ada. Dengan begitu, seluruh potensi gas domestik dapat dimanfaatkan secara lebih efisien,” jelas Arief.

Andalkan Infrastruktur Gas Terbesar di Indonesia

Sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN memiliki modal besar untuk merealisasikan proyek tersebut. Perusahaan saat ini mengelola lebih dari 95 persen infrastruktur gas bumi hilir nasional dan menguasai lebih dari 90 persen pasar niaga gas bumi Indonesia.

Dengan jaringan transmisi dan distribusi yang luas, PGN optimistis mampu menjadi penghubung utama antara sumber-sumber gas baru dengan sektor industri, pembangkit listrik, hingga masyarakat.

Namun demikian, PGN menilai percepatan proyek strategis ini memerlukan dukungan lintas kementerian dan lembaga. Peran Kantor Staf Presiden dinilai penting dalam memperkuat koordinasi antar pemangku kepentingan sehingga berbagai hambatan dapat segera diselesaikan.

“PGN berkomitmen terus mengawal kebijakan pemerintah dalam menghadirkan energi domestik yang bersih, andal, dan memberikan multiplier effect bagi masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Arief.