PHE OSES Cetak Sejarah! CEOR Offshore Pertama Indonesia Resmi Dimulai di Lapangan Rama

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Industri hulu migas Indonesia kembali mencatat sejarah. PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) resmi memulai implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) berbasis polimer di Lapangan Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES), menjadikannya proyek CEOR lepas pantai (offshore) pertama di Indonesia.

Peresmian injeksi perdana polimer yang digelar di Jakarta, Rabu (8/7), dihadiri Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, jajaran Direksi PT Pertamina (Persero), Direksi Pertamina Hulu Energi, hingga manajemen PHE OSES. Momentum ini menjadi lebih dari sekadar seremoni, melainkan awal transformasi pengelolaan lapangan migas tua Indonesia dengan teknologi modern.  

Lapangan Rama sendiri bukanlah lapangan baru. Setelah puluhan tahun memproduksi minyak, lapangan ini telah memasuki fase mature field, di mana tekanan reservoir menurun sehingga minyak semakin sulit diproduksi menggunakan metode konvensional.

Di sinilah teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) memainkan peran penting.

Melalui metode polymer flooding, larutan polimer diinjeksikan ke dalam reservoir untuk meningkatkan kemampuan fluida menyapu minyak yang masih terperangkap di dalam batuan. Dengan cara ini, minyak yang sebelumnya sulit diproduksikan dapat terdorong menuju sumur produksi sehingga recovery factor meningkat dan umur produktif lapangan menjadi lebih panjang.  

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa lapangan tua bukan berarti aset yang telah habis nilainya.

“Lapangan mature bukan aset yang selesai, namun membutuhkan inovasi dan pendekatan baru. Hari ini, melalui Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), kita sedang memberikan terapi baru bagi reservoir kita, memperpanjang usia produktifnya, dan membuktikan bahwa aset-aset puluhan tahun masih mampu berkontribusi besar bagi ketahanan energi nasional,” ujarnya.  

Menurut Simon, keberhasilan proyek ini menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada penemuan cadangan migas baru, tetapi juga pada kemampuan memaksimalkan potensi lapangan-lapangan yang sudah berproduksi melalui inovasi teknologi.

Senada dengan itu, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut injeksi perdana polimer di Lapangan Rama sebagai tonggak penting dalam perjalanan teknologi Enhanced Oil Recovery di Indonesia.

“Injeksi perdana polimer yang dilakukan PHE OSES di Lapangan Rama ini merupakan inovasi CEOR offshore pertama di Indonesia. Kami berharap teknologi ini mampu meningkatkan recovery factor dan memberikan kontribusi terhadap kenaikan lifting minyak nasional,” kata Djoko.  

Sebelum memasuki tahap implementasi, proyek ini telah melalui proses panjang mulai dari kajian bawah permukaan (subsurface), pengujian laboratorium, desain rekayasa, analisis keekonomian, hingga evaluasi risiko dan keselamatan. Seluruh tahapan juga mendapat penilaian para ahli EOR dari SKK Migas dan Pertamina guna memastikan kesiapan teknis maupun operasional.  

PHE OSES menargetkan manfaat penuh proyek CEOR ini dapat dirasakan hingga tahun 2030. Selain meningkatkan produksi Lapangan Rama, proyek ini diharapkan menjadi laboratorium pembelajaran nasional sekaligus referensi bagi penerapan teknologi chemical EOR di berbagai lapangan migas lepas pantai lainnya di Indonesia.  

Keberhasilan proyek ini juga memperlihatkan arah baru strategi pengelolaan migas nasional. Di tengah semakin terbatasnya penemuan cadangan raksasa, optimalisasi lapangan-lapangan eksisting melalui inovasi menjadi salah satu kunci menjaga produksi nasional. Jika terbukti berhasil, CEOR offshore berpotensi menjadi senjata baru Indonesia dalam memperlambat penurunan produksi lapangan tua sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.