Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Industri minyak dan gas bumi (migas) bukan bisnis yang bisa berjalan dalam hitungan bulan. Bisnis ini membutuhkan investasi besar, teknologi tinggi, serta kepastian untuk jangka panjang.
Chief Executive Officer (CEO) PT Medco Energi Internasional Tbk, Ronald Gunawan, menegaskan bahwa stabilitas dan kepastian menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik investasi migas Indonesia.
Hal itu disampaikan Ronald dalam paparannya pada Simposium IATMI ke-18 Tahun 2026, Selasa (15/9/2026).
Menurut Ronald, karakter bisnis migas yang membutuhkan modal besar membuat investor sangat sensitif terhadap ketidakpastian (uncertainties). Apalagi, kegiatan operasional migas saat ini sudah bersifat lintas negara atau borderless.
Medco, misalnya, tidak hanya mengembangkan bisnis migas di Indonesia, tetapi juga melakukan investasi di sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, dan Oman.
“Yang paling penting bagi investor adalah bagaimana menghindari uncertainties. Ketidakpastian membuat kita sulit mengambil keputusan,” ujar Ronald dalam paparannya.
Karena itu, menurut dia, Indonesia perlu menjaga konsistensi regulasi meskipun terjadi pergantian kepemimpinan maupun perubahan kebijakan. Kepastian tersebut menjadi salah satu fondasi agar investor berani menanamkan modal dalam jangka panjang.
Selain regulasi, Ronald menilai kemampuan teknis sumber daya manusia menjadi pilar penting. Industri migas merupakan industri berteknologi tinggi dan berisiko besar sehingga membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi teknis yang kuat.
Menariknya, Ronald menilai syarat Kontrak Bagi Hasil (PSC) Indonesia saat ini sebenarnya sudah cukup kompetitif.
Dalam tiga hingga lima tahun terakhir, pemerintah telah menawarkan skema bagi hasil yang menurutnya menarik bagi investor. Split dapat berada di kisaran 60:40 hingga 55:45, dengan skema cost recovery yang dapat mencapai 100 persen.
Namun, persoalan Indonesia bukan lagi semata-mata soal terms and conditions kontrak.
“Terms-nya sudah cukup bagus. Tantangannya adalah time to market,” kata Ronald.
Menurut dia, lamanya waktu yang dibutuhkan sejak keputusan investasi dibuat hingga proyek mulai menghasilkan nilai ekonomi masih menjadi tantangan besar.
Ronald membandingkannya dengan Oman. Di negara tersebut, menurut dia, eksekusi proyek dapat diselesaikan sekitar dua tahun karena proses pengadaan relatif sederhana dan persoalan pembebasan lahan jauh lebih minim.
Kondisi geografis Oman yang sebagian wilayahnya berupa padang pasir juga membuat pengembangan proyek relatif lebih sederhana.
“Jadi walaupun terms-nya mungkin tidak sebagus Indonesia, kalau time to market-nya cepat, manfaat ekonominya bisa lebih cepat dirasakan,” jelasnya.
Bagi investor, kecepatan tersebut menjadi bagian penting dari perhitungan keekonomian proyek.
Migas Masih Punya Peran di Tengah Transisi Energi
Ronald juga menyoroti perubahan lanskap energi global. Menurut dia, perkembangan energi terbarukan tidak serta-merta berarti minyak dan gas akan langsung ditinggalkan.
Ia melihat energi terbarukan saat ini lebih tepat dipandang sebagai tambahan pasokan energi (energy additions), bukan pengganti total hidrokarbon dalam waktu singkat.
Karena itu, migas masih akan memiliki peran dalam menjaga ketahanan dan keamanan energi.
Medco sendiri, kata Ronald, sudah mengantisipasi perubahan tersebut sejak 2017–2018 dengan membangun tiga pilar bisnis.
Pertama, minyak dan gas. Kedua, ketenagalistrikan dan energi terbarukan. Ketiga, pertambangan.
Untuk bisnis pertambangan, Medco memilih fokus pada komoditas yang dinilai relevan dengan kebutuhan industri masa depan, terutama tembaga dan emas.
Strategi tersebut mencerminkan pendekatan Medco untuk tidak mempertentangkan hidrokarbon dengan energi baru, tetapi membangun portofolio yang lebih seimbang.
Ronald mengingatkan bahwa transisi energi membutuhkan keseimbangan. Ia menyinggung pengalaman Australia yang pernah menghadapi persoalan pasokan listrik setelah melakukan peralihan energi secara cepat.
Menurut dia, Australia memiliki cadangan gas yang besar, tetapi sebagian besar gas tersebut telah diekspor sehingga ketika kebutuhan domestik meningkat, muncul persoalan pasokan energi.
“Jadi kita harus belajar bahwa transisi harus seimbang,” ujarnya.
Bagi Indonesia, keseimbangan antara hidrokarbon dan energi baru menjadi penting agar agenda transisi energi tidak mengorbankan energy security.
IATMI dan Tantangan SDM Migas
Dalam paparannya, Ronald juga menyoroti pentingnya peran organisasi profesi seperti Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) dalam membangun ekosistem industri kebumian.
Menurut dia, organisasi profesi memiliki peran penting dalam pengembangan kompetensi dan akuntabilitas sumber daya manusia (people accountability), sekaligus memberikan perspektif teknis kepada pemerintah.
Industri migas memiliki karakter high technology dan high capital. Kesalahan teknis dalam satu pekerjaan, terutama pengeboran, bahkan dapat menyebabkan kerugian hingga jutaan dolar.
Karena itu, pengembangan kompetensi tidak bisa ditawar.
Namun, Ronald mengingatkan bahwa perspektif teknis tidak boleh berdiri sendiri. Masukan teknis kepada pemerintah harus selalu mempertimbangkan aspek ekonomi.
“Technical point of view tidak boleh dipisahkan dari economic point of view,” tegasnya.
Menurut dia, kemampuan Indonesia menghadapi tantangan industri global akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengawinkan keahlian teknis dengan pertimbangan keekonomian.
Pada akhirnya, Ronald menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Tantangan energi ke depan bukan hanya menyangkut produksi migas atau pembangunan energi terbarukan, tetapi juga persoalan listrik, investasi, teknologi, SDM, hingga perubahan geopolitik global.
Pesannya jelas: Indonesia membutuhkan energi yang cukup, investasi yang berkelanjutan, regulasi yang stabil, serta SDM yang kompeten untuk memenangkan persaingan energi global.

