Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Upaya meningkatkan produksi minyak dan gas bumi nasional tidak lagi cukup mengandalkan penemuan lapangan baru. SKK Migas kini mendorong strategi berlapis, mulai dari mengaktifkan kembali sumur-sumur idle, menggenjot teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), melakukan pengeboran horizontal, mempercepat eksplorasi wilayah timur Indonesia, hingga memperkuat integrasi hulu-hilir.
Gambaran tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam paparannya bertajuk “Peningkatan Produksi Migas Nasional: Strategi, Langkah, dan Implementasi” pada 15 September 2026. Ruangenergi.com membaca paparan tersebut.
Pesannya cukup jelas: cadangan dan infrastruktur masih besar, tetapi tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut lebih cepat berubah menjadi produksi.
Potensi Hulu Masih Terbuka Lebar
Dalam paparannya, SKK Migas mencatat Indonesia memiliki 165 Wilayah Kerja (WK) per 31 Agustus 2026. Rinciannya, 107 WK berada pada tahap eksploitasi, 55 WK eksplorasi aktif, dan tiga WK eksplorasi dalam proses terminasi.
Skala aset hulu migas nasional juga cukup besar. Terdapat sekitar 649 platform, lebih dari 460.000 km² working area aktif di darat dan lepas pantai, dua kilang LNG, tujuh kilang LPG, 22 FPSO/FSO/FPU, serta sekitar 47.500 km jaringan pipa.
Nilai aset hulu migas tersebut disebut mencapai sekitar US$71,37 miliar, atau sekitar Rp743,49 triliun berdasarkan harga perolehan. Selain itu terdapat sekitar 3.199 lapangan eksplorasi dan pengembangan serta 44.714 sumur.
Yang menarik, ruang eksplorasi Indonesia masih sangat luas. Dari 128 cekungan, baru 20 yang merupakan producing basin, sedangkan 65 cekungan belum dieksplorasi. Paparan SKK Migas menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu peluang investasi energi terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Eksplorasi Mulai Memberikan Sinyal Positif
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas eksplorasi juga menghasilkan sejumlah penemuan. Paparan SKK Migas mencatat 99 total discoveries dengan rata-rata success ratio 50%, termasuk berbagai temuan seperti Geng North, Geliga, Layaran, Tangkulo, Timpan, Hidayah, Kolibri, Julang Emas, Kepe-Kepe dan sejumlah prospek lainnya.

Angka tersebut menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah tantangan natural decline lapangan-lapangan yang telah berproduksi.
Namun, penemuan saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah mempercepat proses dari discovery lanjut development kemudian production.
Produksi Minyak Masih di Bawah Target APBN
Data YTD Agustus 2026 menunjukkan produksi liquid mencapai 578,5 MBOPD, atau sekitar 94,8% dari target APBN 610 MBOPD.
Sementara itu, gas lifting mencapai 5.212 MMSCFD, atau sekitar 94,6% dari target APBN 5.508 MMSCFD.
Grafik dalam paparan juga memperlihatkan tantangan jangka panjang. Produksi gas nasional mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, meski terdapat sejumlah periode pertumbuhan. Pada 2026, profil produksi gas tercatat sekitar 6.561 MMSCFD.
Karena itu, strategi peningkatan produksi harus dilakukan dari berbagai sisi secara bersamaan.
SKK Migas memetakan sejumlah langkah strategis.
Pertama, teknologi.
Peningkatan produksi dilakukan melalui EOR, pengeboran horizontal serta teknologi untuk mengangkat unpumpable stock. Bahkan, teknik Multi-Stage Fracturing (MSF) didorong untuk meningkatkan produksi minyak.
Kedua, menghidupkan kembali sumur-sumur idle.
Jumlah sumur tidak aktif tercatat mencapai 16.990 sumur. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.495 sumur dinilai berpotensi diaktifkan kembali untuk mendukung peningkatan produksi minyak nasional.
Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang menarik: produksi tambahan tidak selalu harus berasal dari pengeboran sumur baru. Sebagian potensi bisa berasal dari aset yang sudah tersedia namun belum optimal.
Ketiga, mempercepat eksplorasi Indonesia Timur.
Kawasan Timur Indonesia dinilai masih menyimpan potensi besar untuk penemuan cadangan baru. Pemerintah, menurut paparan tersebut, akan mendorong percepatan eksplorasi melalui skema kerja sama dan pemberian insentif yang lebih menarik.
Keempat, mengoptimalkan sumur masyarakat.
Implementasi Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 membuka ruang bagi BUMD, koperasi dan UMKM/BKU untuk mengelola sumur masyarakat dalam rangka menambah produksi minyak nasional. Namun, SKK Migas mencatat masih diperlukan penyelarasan bisnis, koordinasi pemangku kepentingan yang lebih kuat serta peningkatan kemampuan pelaksanaan oleh BKU.
Kelima, menjalankan Program Triple 100.
Program ini mencakup target 100 sumur eksplorasi, 100 kegiatan Multi-Stage Fracturing dan 100 sumur pengembangan.
Dalam monitoring Agustus 2026, capaian sumur eksplorasi berada di angka 93 dari target 100, MSF 82 dari target 100, sedangkan sumur pengembangan telah mencapai 100 dari target 100. Artinya, masih terdapat pekerjaan yang harus dikejar untuk memenuhi target eksplorasi dan MSF.
Salah satu poin penting dalam path forward SKK Migas adalah persoalan aging facilities.
Sejumlah fasilitas produksi migas telah berusia lanjut, antara lain Duri Steamflood, Tempino–Plaju Trunkline, serta pipa di wilayah operasi OSES dan ONWJ.
Menurut paparan SKK Migas, peningkatan reliability fasilitas menjadi faktor krusial dalam peningkatan produksi migas.
Dengan kata lain, mengejar tambahan produksi tidak cukup hanya dengan mengebor sumur. Infrastruktur yang membawa minyak dan gas dari lapangan menuju titik pengolahan dan konsumen juga harus mampu bekerja secara andal.
SKK Migas juga menempatkan integrasi hulu dan hilir sebagai salah satu kunci.
Contohnya adalah proyek terintegrasi seperti pipa WNTS–Pemping maupun Duri–Sei Mangke yang dinilai penting untuk mengoptimalkan rantai nilai gas bumi.
Kerangka kerja yang ditawarkan SKK Migas bahkan dibagi menjadi tiga peran besar.
SKK Migas berperan sebagai pihak yang “orchestrate & accelerate”, antara lain melalui peningkatan perencanaan, akselerasi pengambilan keputusan, pemantauan delivery KKKS, fasilitasi eksekusi proyek dan mendorong monetisasi penemuan.
KKKS berada pada posisi “invest & execute”, mulai dari penempatan modal, adopsi teknologi, eksekusi proyek, efisiensi operasional hingga pencapaian target produksi.
Sementara pemerintah berperan “enable & de-risk”, melalui kebijakan fiskal dan pajak, perizinan, penyediaan lahan dan infrastruktur, komersialisasi gas serta koordinasi lintas sektor dan regional.
Ujung dari seluruh pendekatan tersebut dirangkum dalam satu sasaran: siklus waktu yang lebih singkat, biaya yang lebih rendah, dan faster first oil.
Paparan Djoko Siswanto memperlihatkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal hulu yang besar: wilayah kerja luas, ribuan sumur, ratusan platform, jaringan pipa, penemuan eksplorasi dan cekungan yang masih belum tergarap.
Persoalannya adalah bagaimana seluruh potensi itu dikonversi menjadi produksi nyata secara lebih cepat dan efisien.
Karena itu, agenda peningkatan produksi migas nasional ke depan bukan sekadar soal “berapa banyak sumur yang dibor”, tetapi juga soal teknologi, keandalan fasilitas, pengaktifan aset lama, percepatan perizinan, kepastian investasi, monetisasi temuan serta keterhubungan antara sektor hulu dan hilir.
Dari eksplorasi hingga first oil, kata kuncinya kini adalah kecepatan, efisiensi dan kolaborasi.


