Target 23 Persen di 2025, Pertamina Terus Kembangkan EBT

Jakarta, Ruangenergi.com – PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, pihaknya telah memiliki beberapa strategi untuk bertransformasi dari energi fosil menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT).   Pasalnya, Pemerintah telah menargetkan bauran EBT di 2025 sebesar 23 persen.

Dalam sebuah diskusi virtual, Senin, 10 Agustus 2020, dengan para mahasiswa, Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan, ada tiga strategi yang akan dilakukan oleh perseroan dalam mengembangkan EBT. Pertama, pemanfaatan bahan baku (managing base); kemudian, akselerasi pertumbuhan (accelerate growth); dan peningkatan kapasitas produksi (scale up and expand).

Ia menjelaskan, strategi tersebut akan dilakukan oleh subholding power and new and renewable energy yang memang difokuskan untuk bisnis EBT, di luar bisnis eksisting perusahaan yakni sektor minyak dan gas (migas).

“Karena pada saat yang bersamaan secara simultan kita harus tetap mempertahankan dan meningkatkan kinerja dari suplai energi minyak dan gas, tetapi kami juga harus mulai mengembangkan EBT akan melakukan akselerasi dari pengembangan ini,” terang Nicke, sebagaimana diberitakan, (11/08).

Menurut Nicke, perseroan tak boleh ketinggalan dengan perusahaan-perusahaan migas internasional yang telah memiliki cetak biru pengembangan EBT. Misalnya, perusahaan migas asal Inggris British Petroleum yang banyak menghabiskan investasinya untuk green energy.

“BP ini mereka banyak melakukan pengembangan, sekitar 40 persen dalam portofolio migas mereka jual dan mereka investasi lebih banyak di green energy di gas dan juga kalau karbon energi lainnya jadi inilah yang dilakukan perusahaan perusahaan migas di dunia,” ungkap Nicke.

BACA JUGA  Di Tengah Pandemi, PDC Tetap Optimis Raih Target 2020

Ia menambahkan, pihaknya sudah melakukan transisi dengan mengoptimalkan sumberdaya yang ada di dalam negeri. Karena, hal ini penting untuk mencapai kemandirian energi dalam proses transisi EBT.

“Jadi kalau yang mau kami capai bukan hanya ketahanan saja, tapi kedaulatan dan kemandirian. Maka dari itu, penggunaan domestik market adalah yang utama,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, saat ini Pertamina telah menggandeng PT Inalum (Persero) dan PT PLN (Persero) untuk memproduksi baterai kendaraan listrik yang bahan bakunya melimpah di dalam negeri.

Selain itu, Pertamina juga mengembangkan bisnis petrokimia yang terintegrasi dengan kilang perusahaan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat-obatan dalam negeri.

“Kami akan bekerja sama dengan perusahaan farmasi untuk membangun output ini di Kilang Cilacap dan yang akan kami kembangkan ke kilang yang lainnya. Jadi banyak yang akan kita lakukan untuk mengembangkan hilirisasi domestik resource di Indonesia,” jelasnya.

Ia kemabki menambahkan, pihaknya terus mengembangkan biofuel dengan menggandeng perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Salah satu produk yang jadi andalan yakni biodiesel berbahan baku kelapa sawit (B100).

“Kita ini negara yang sangat kaya dengan sawit. Selain kita bisa produksi dan kita olah jadi green energy, limbahnya bisa kita olah jadi biogas yang bisa kita olah jadi LNG (Liquified Natural Gas),” tandas Nicke.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *