Dari Bandara ke Blok Mahakam: Inspirasi Sederhana yang Hematkan Biaya Rig

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Inovasi besar tidak selalu lahir dari ruang rapat atau laboratorium teknologi tinggi. Kadang, ide itu muncul dari momen sederhana di kehidupan sehari-hari—bahkan saat menunggu taksi di bandara.

Hal itulah yang diceritakan SVP Strategy & Investment PT Pertamina (Persero), Henricus Herwin, dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @henricusherwin. Pengalaman sederhana tersebut kemudian melahirkan gagasan efisiensi operasional di Blok Mahakam, salah satu wilayah kerja migas terbesar dan paling menantang di Indonesia.

Menurut Herwin, tantangan utama di Blok Mahakam adalah usia lapangan yang sudah matang dengan cadangan gas per sumur yang terus menurun. Di sisi lain, area operasinya sangat luas sehingga mobilisasi rig membutuhkan biaya bahan bakar dan logistik yang besar.

Ia menggambarkan luasnya Lapangan Tunu di Mahakam dengan analogi perjalanan dari Tanjung Priok menuju Bogor lalu kembali lagi ke Tanjung Priok.

“Bisa dibayangkan mahalnya harga bahan bakar dan logistik yang diperlukan untuk pindah dari satu sumur,” ujarnya.

Biaya operasional menjadi semakin tinggi ketika pola pengeboran dilakukan secara berpindah-pindah, misalnya dari utara ke selatan, kemudian ke tengah, kembali lagi ke utara, lalu ke selatan lagi. Kondisi tersebut membuat pergerakan rig menjadi tidak efisien.

Inspirasi perubahan justru datang ketika Herwin melakukan perjalanan dari Balikpapan menuju Jakarta untuk menghadiri rapat. Saat menunggu kendaraan di bandara, ia memperhatikan bagaimana perusahaan taksi menerapkan sistem pooling untuk mengatur armada agar lebih efisien.

Dari pengamatan sederhana itu, ia mendapatkan ide untuk menerapkan konsep serupa pada pergerakan rig di Blok Mahakam.

“Dari sanalah saya mempunyai ide untuk melakukan sistem pooling juga untuk pergerakan rig di Blok Mahakam,” tulisnya.

Penerapan sistem tersebut terbukti mampu menghasilkan optimasi biaya sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di lapangan.

Bagi Herwin, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus rumit. Ide-ide sederhana yang lahir dari kepekaan melihat sekitar justru bisa memberikan dampak besar bagi perusahaan.

Ia pun mengajak para profesional muda untuk terus membuka pikiran terhadap berbagai peluang di tengah tantangan industri yang terus berubah.

“Inovasi bisa datang dari ide-ide yang sederhana. Teruslah melihat peluang dengan kepala terbuka ketika berhadapan dengan tantangan-tantangan yang ada di depan kita,” ujarnya.

Tantangan Lapangan Tua

Di tengah tantangan menjaga produksi migas dari lapangan-lapangan tua di Kalimantan, PT Pertamina Hulu Indonesia justru membuka tahun 2026 dengan catatan yang mencolok. Dari sumur-sumur yang tersebar di darat hingga lepas pantai Kalimantan Timur, denyut produksi tetap terjaga—bahkan melampaui target yang ditetapkan perusahaan.

Hingga akhir Maret 2026, PHI membukukan produksi minyak sebesar 60,44 ribu barel per hari (mbopd) dan produksi gas mencapai 619 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Angka itu setara sekitar 120 persen untuk produksi minyak dan 105 persen untuk produksi gas dibanding target Triwulan I tahun ini.

Namun bagi PHI, keberhasilan bukan hanya soal angka produksi. Di balik operasi yang berlangsung tanpa henti, perusahaan juga mencatatkan 57,36 juta jam kerja selamat, nihil fatalitas, dan zero Lost Time Incident (LTI). Sebuah capaian yang menunjukkan bagaimana operasi migas berisiko tinggi tetap dapat berjalan dengan disiplin keselamatan yang ketat.

Direktur Utama PHI, Sunaryanto, menilai capaian tersebut sebagai refleksi dari komitmen perusahaan menjaga keberlanjutan energi nasional dari wilayah Kalimantan.

“Di PHI, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas Perusahaan yang penting dalam mendukung pencapaian target produksi nasional dan ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.

Bagi pria yang akrab disapa Anto itu, kunci menjaga performa lapangan-lapangan mature terletak pada inovasi dan keandalan fasilitas produksi. Ketika banyak lapangan migas mengalami penurunan alami produksi, PHI memilih melawan tantangan itu lewat teknologi dan pendekatan baru.

Salah satu terobosan datang dari Lapangan Handil yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam. Di lapangan ini, perusahaan menerapkan metode High Pour Point Oil (HPPO), sebuah solusi untuk mengatasi minyak dengan kandungan lilin tinggi yang mudah membeku di jalur pipa produksi. Dengan penggunaan pelarut khusus, minyak tetap mengalir optimal meski menghadapi kondisi operasi yang menantang.

Teknologi serupa juga diterapkan di Lapangan Mutiara dan Pamaguan yang dikelola PT Pertamina Hulu Sanga Sanga. Di sana, inovasi menjadi jawaban atas tantangan teknis yang selama ini menghambat produktivitas sumur.

Tak berhenti di situ, PHM juga berhasil mengoptimalkan sumur emulsi di Lapangan Tunu—sebuah langkah yang turut memperkuat kontribusi produksi gas perusahaan.

Sementara itu, PHSS membawa pendekatan berbeda melalui penerapan teknologi Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL). Teknologi ini digunakan di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara untuk membantu mengangkat minyak ke permukaan dengan menyuntikkan gas bertekanan ke dalam sumur. Hasilnya, produktivitas sumur meningkat dan target produksi triwulan pertama dapat tercapai.

Kontribusi penting lainnya datang dari PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur melalui Lapangan Kerindingan, Lapangan Sapi, dan sumur-sumur infill baru di lepas pantai Kalimantan Timur yang mempercepat tambahan produksi minyak perusahaan.

Di balik capaian tersebut, ada pula pekerjaan sunyi yang tak selalu terlihat: pemeliharaan fasilitas, perbaikan sumur, hingga reaktivasi lapangan lama. Salah satu program penting adalah Handil Rejuvenation yang dijalankan PHM di Lapangan Handil. Program ini berhasil meningkatkan produksi hingga lima persen dibanding sebelum revitalisasi dilakukan.

Untuk sektor gas, keberhasilan onstream platform kedua dan ketiga Proyek Sisi Nubi AOI pada Februari dan Maret 2026 menjadi pendorong utama tambahan produksi. Kinerja itu diperkuat oleh aktivitas well service di Lapangan Tunu, workover Lapangan Santan, hingga optimalisasi sumur di Nilam dan Mutiara.

Bagi PHI, seluruh pencapaian tersebut bukan semata hasil kerja teknologi, tetapi juga buah dari kolaborasi lintas fungsi dan dukungan banyak pihak—mulai dari pekerja lapangan, pemerintah, hingga masyarakat sekitar wilayah operasi.

“Dukungan seluruh pemangku kepentingan internal dan eksternal terhadap kelancaran operasi hulu migas Perusahaan merupakan aspek penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas yang penting bagi ketahanan energi nasional sesuai Asta Cita pemerintah Indonesia,” tutup Anto.

Dari jantung operasi migas Kalimantan, PHI tampaknya ingin mengirim satu pesan penting: di tengah tantangan energi global dan lapangan-lapangan yang semakin mature, inovasi tetap mampu menjaga nyala produksi Indonesia.

Blok Mahakam Blok Migas Terbesar di Indonesia

Blok Mahakam adalah salah satu blok migas terbesar di Indonesia. Peralihan pengelolaannya dari Total E&P Indonesie dan Inpex ke Pertamina Hulu Mahakam (anak usaha Pertamina Hulu Energi/PHE) merupakan proses yang panjang dan strategis.

Perjalanan PT Pertamina (Persero) untuk dapat mengambil alih Blok Mahakam merupakan upaya panjang agar blok migas ini masuk ke dalam portofolio pengelolaan perusahaan milik negara Republik Indonesia.

Sebagai pengingat, awal perjalanan Pertamina mendapatkan Blok Mahakam bermula dari kepemilikan blok ini yang saat itu dikuasai oleh Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.

Sejak tahun 1966, blok ini dikelola oleh konsorsium Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation di bawah skema Production Sharing Contract (PSC) bersama Badan Koordinasi Kontraktor Asing (BPKA), yang kemudian berubah menjadi Badan Pembinaan dan Pengawasan Kontraktor Asing (BPPKA), sebuah unit di bawah Pertamina.

Seiring waktu, BPPKA berganti menjadi BPMIGAS (Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi). Namun, BPMIGAS kemudian dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena dianggap tidak konstitusional dan bertentangan dengan UUD 1945. Meskipun demikian, pengelolaan Blok Mahakam tetap berada di tangan Total dan Inpex hingga masa kontraknya habis.

Pada tahun 2015, Pemerintah Republik Indonesia membuat keputusan penting: kontrak pengelolaan Blok Mahakam tidak diperpanjang. Melalui Kementerian ESDM, pemerintah memutuskan bahwa pengelolaan blok akan beralih kepada Pertamina setelah kontrak berakhir pada 31 Desember 2017.

Menjelang akhir kontrak, Pertamina menghadapi proses transisi yang kompleks. Blok Mahakam merupakan lapangan migas mature (tua) dengan produksi gas yang menurun.

Setelah hampir 50 tahun dikelola oleh Total E&P, sejak 1 Januari 2018 Blok Mahakam secara resmi diserahkan kepada PT Pertamina (Persero). Dalam proses alih kelola ini, pemerintah memberikan fleksibilitas kepada Pertamina untuk mengatur pembagian saham (share down) dengan mitra, setelah lebih dulu memberikan 10% Participating Interest (PI) kepada Pemerintah Daerah.

Total dan Inpex juga diberikan opsi untuk tetap berpartisipasi dengan kepemilikan PI maksimal sebesar 39%. Untuk itu, Pertamina menyiapkan anak usaha khusus yaitu PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) sebagai operator baru.

Mengelola Blok Mahakam memerlukan investasi besar, karena lapangan ini adalah lapangan mature yang produksinya menurun. Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui enhanced oil and gas recovery, workover, well service, dan pengeboran baru.