Siak, Riau, ruangenergi.com— Kobaran api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah operasi PT Bumi Siak Pusako (BSP) kembali menjadi perhatian. Api dilaporkan menjalar mendekati NEB #3, yang berada di area dua sumur migas.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menerima laporan perkembangan penanganan karhutla tersebut dari Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, Sebastian, pada Kamis malam, 27 Agustus 2026.
Dalam laporan itu disebutkan, kondisi di sekitar NEB #3 masih aman, setelah bantuan pemadaman tiba di lokasi.
Bantuan datang dari jajaran Kodim dengan mengerahkan dua unit fire truck sekitar pukul 23.30 WIB. Armada tersebut langsung digunakan untuk membantu memadamkan api yang berada di sekitar NEB #3.
“Api menjalar mendekati NEB #3. Alhamdulillah aman, sudah datang bantuan dari Kodim membawa dua fire truck pukul 23.30 WIB,” demikian laporan yang diterima Djoko.
Penanganan di lapangan dilakukan secara bersama-sama. Sejumlah pejabat turut memantau langsung upaya pengendalian api, di antaranya Direktur, Dandim, Bupati Siak, serta dua orang perwakilan SKK Migas Sumbagut.
Gambut Jadi Tantangan
Meski bantuan pemadaman telah tiba, petugas masih menghadapi tantangan serius. Lahan gambut membuat api sulit benar-benar dipastikan padam.
Api yang sudah berhasil dikendalikan dapat kembali menyala ketika tertiup angin.
“Tantangannya gambut. Padam pun kena angin sedikit bisa nyala lagi,” demikian laporan tersebut.
Kondisi ini membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas harus terus melakukan pemantauan dan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
SKK Migas bersama seluruh pihak terkait terus mengawal penanganan karhutla di sekitar wilayah operasi hulu migas. Prioritas utama adalah memastikan keselamatan pekerja, menjaga keamanan fasilitas produksi, sekaligus mencegah api meluas ke area strategis lainnya.
Pergerakan api menuju kawasan NEB #3 menjadi perhatian karena area tersebut berkaitan dengan dua sumur migas. Karena itu, koordinasi lintas instansi dan kesiapan sarana pemadaman menjadi sangat penting dalam menghadapi kondisi lahan gambut yang mudah kembali terbakar.

