SKK Migas Laporkan Karhutla: 4 KKKS Tanggap Darurat, 6 Siaga

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi sejumlah wilayah operasi hulu minyak dan gas bumi (migas). Hingga Rabu, 26 Agustus 2026, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mencatat empat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berada dalam status tanggap darurat.

Laporan harian karhutla hulu migas yang disusun Kelompok Kerja K3LL, Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, menunjukkan empat KKKS tersebut yakni PT Bumi Siak Pusako di wilayah Sumbagut, PT Sele Raya Belida dan PEP Prabumulih di Sumbagsel, serta BP Berau di wilayah Pamalu.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan perkembangan tersebut pada Rabu, 26 Agustus 2026. Data SKK Migas memperlihatkan kondisi karhutla di wilayah hulu migas masih membutuhkan perhatian serius, terutama di sejumlah area operasi yang masuk kategori siaga maupun tanggap darurat.

Selain empat KKKS berstatus tanggap darurat, enam KKKS lainnya berada dalam status siaga. Mereka adalah PHR Zona Rokan, Pertamina EP Regional 1 Zona 4 Limau Field, Pertamina EP Zona 4 Ramba Field, PEP Jambi Field, PHE Sanga Sanga, dan Pertamina Hulu Mahakam.

Secara keseluruhan, grafik status karhutla hulu migas pada laporan 26 Agustus menunjukkan 61 area atau 68% berada dalam kondisi aman. Sementara itu, 19 area atau 21% masuk kategori waspada, enam area atau 7% berstatus siaga, dan empat area atau 4% berada dalam status tanggap darurat.

Sumbagsel Jadi Salah Satu Titik Perhatian

Jika dilihat berdasarkan wilayah perwakilan, Sumbagsel menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian. Selain PT Sele Raya Belida dan PEP Prabumulih yang berstatus tanggap darurat, Pertamina EP Regional 1 Zona 4 Limau Field, Pertamina EP Zona 4 Ramba Field, dan PEP Jambi Field tercatat dalam status siaga.

Sementara di Sumbagut, status tanggap darurat tercatat pada PT Bumi Siak Pusako, sedangkan PHR Zona Rokan berada pada level siaga. Di wilayah Kalsul, PHE Sanga Sanga dan Pertamina Hulu Mahakam berstatus siaga. Adapun BP Berau menjadi KKKS berstatus tanggap darurat di wilayah Pamalu.

Data ini menggambarkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan operasional bagi kegiatan hulu migas. Status siaga dan tanggap darurat menuntut kewaspadaan lebih tinggi agar aktivitas produksi tetap berjalan aman sekaligus memastikan keselamatan pekerja dan lingkungan di sekitar wilayah operasi.

Laporan 26 Agustus 2026 juga memperlihatkan perubahan dibandingkan sehari sebelumnya. Pada laporan 25 Agustus, terdapat enam KKKS yang berada dalam status tanggap darurat, termasuk PHR Zona Rokan, Pertamina EP Regional 1 Zona 4 Pendopo Field, dan PT EMP Energi Riau.

Sehari kemudian, jumlah KKKS berstatus tanggap darurat turun menjadi empat. Namun, munculnya beberapa wilayah baru dalam daftar siaga menunjukkan situasi karhutla masih dinamis dan membutuhkan pemantauan berkelanjutan.

Bagi industri hulu migas, kondisi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla harus berjalan beriringan dengan keberlangsungan operasi. Pemantauan titik rawan, kesiapan personel, serta koordinasi penanganan menjadi bagian penting untuk memastikan ancaman api tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap kegiatan hulu migas.

Laporan harian SKK Migas tersebut diterbitkan pada 26 Agustus 2026 oleh Kelompok Kerja K3LL, Divisi Penunjang Operasi.