Abu Dhabi, UAE, ruangenergi.com – Di tengah gemerlap Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026, Indonesia membawa pesan penting kepada dunia: peluang investasi hulu minyak dan gas bumi masih terbuka lebar, dan potensi yang tersimpan di Tanah Air belum sepenuhnya tergarap.
Pesan itu mengemuka saat Kepala SKK Migas Djoko Siswanto bersama Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas Eka Bhayu Setta dan jajaran Divisi Pengelolaan Rantai Suplai (Supply Chain Management/SCM) SKK Migas hadir dalam pembukaan Indonesia Pavilion di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (2/11/2026). Menariknya, Wamen Ristek Stella Christie hadir dan ikut meresmikan Paviliun Indonesia. Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Mawardi Nur dan Dirut Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Sunaryanto plus Tenaga Ahli Mesdm Anggawira hadir juga di Adipec 2026 dan menyaksikan pembukaan Paviliun Indonesia.

Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi agenda pembukaan paviliun. Di balik langkah tersebut, tersimpan upaya memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan investasi energi global, sekaligus mempertemukan potensi sumber daya migas nasional dengan investor, teknologi, dan mitra industri internasional.
ADIPEC menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk memperkenalkan diri sebagai negara yang masih menyimpan peluang besar dalam pengembangan hulu migas.
Dari Abu Dhabi, Indonesia membuka peluang
Mengusung tema “Indonesia: A Strategic Horizon for Your Global Energy Investment”, Indonesia Pavilion menjadi ruang bagi pemerintah, SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dan perusahaan dalam negeri untuk memperkenalkan peluang serta kemampuan industri hulu migas nasional.
Bagi Djoko Siswanto, kehadiran Indonesia di forum energi internasional ini memiliki tujuan yang jelas: mengundang investor global agar mempertimbangkan Indonesia sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis mereka.
Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen. Dari jumlah tersebut, 65 cekungan belum dieksplorasi.
Angka itu menjadi salah satu pesan utama yang dibawa Indonesia ke hadapan komunitas energi dunia. Di balik cekungan-cekungan yang belum tersentuh kegiatan eksplorasi, terdapat peluang untuk menemukan sumber daya baru yang dapat memperkuat keberlanjutan produksi migas nasional.
“Dukungan investasi, teknologi, serta kemitraan yang tepat akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi tersebut,” ujar Djoko.
Peluang tersebut bukan sekadar harapan. Sejumlah temuan signifikan dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan bahwa kegiatan eksplorasi Indonesia masih menyimpan prospek yang menjanjikan.
Salah satu bukti yang dibawa Indonesia adalah penemuan sumur gas Geliga-1 di Blok Ganal oleh Eni pada April 2026.
Temuan tersebut diperkirakan memiliki sumber daya gas in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat.
Geliga-1 melanjutkan keberhasilan sejumlah penemuan sebelumnya, seperti Geng North-1 dan Konta-1 di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, serta Layaran-1 dan Tangkulo-1 di Wilayah Kerja South Andaman.
Deretan penemuan itu menjadi modal penting bagi Indonesia untuk meyakinkan investor bahwa potensi hulu migas nasional masih layak diperhitungkan.
Hingga September 2026, contingent resources Indonesia telah mencapai 1.497,4 juta barel setara minyak (MMBOE), atau 230 persen dari target tahunan. SKK Migas memperkirakan angka tersebut dapat meningkat menjadi 250 persen pada akhir tahun.
Sementara itu, reserve replacement ratio (RRR) diproyeksikan mencapai 221,4 persen pada akhir 2026. Artinya, penambahan cadangan diperkirakan melampaui volume cadangan yang diproduksikan.
Bagi industri hulu migas, capaian tersebut menjadi sinyal penting bahwa kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan dapat terus menopang keberlanjutan produksi nasional.
SCM ikut memperkuat daya tarik Indonesia
Di balik upaya memperkenalkan potensi geologi dan peluang investasi, kehadiran Deputi Dukungan Bisnis Eka Bhayu Setta bersama Divisi SCM SKK Migas juga menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan bisnis bagi industri hulu migas.

Peluang investasi tidak berhenti pada penemuan sumber daya. Pengembangan wilayah kerja, optimalisasi aset, hingga kemitraan seperti farm-in/farm-out membutuhkan dukungan rantai suplai dan ekosistem industri yang mampu menopang pelaksanaan proyek.

Dalam konteks tersebut, Indonesia Pavilion menjadi ruang untuk mempertemukan potensi hulu migas dengan kapabilitas industri nasional.

Partisipasi sebelas KKKS dan 13 perusahaan dalam negeri turut memperlihatkan bahwa promosi investasi tidak hanya berbicara mengenai sumber daya alam, tetapi juga mengenai keterlibatan pelaku industri dalam negeri dalam rantai nilai hulu migas.
Upaya Indonesia menarik perhatian investor global berlangsung ketika investasi hulu migas nasional menunjukkan tren positif.

Pada 2025, investasi sektor hulu migas mencapai US$14,9 miliar. Untuk 2026, nilainya diproyeksikan meningkat menjadi US$17,87 miliar, yang disebut sebagai angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Djoko berharap partisipasi Indonesia di ADIPEC dapat memperkuat momentum tersebut melalui pembukaan peluang kemitraan dan masuknya investasi baru.
Pemerintah juga menawarkan fleksibilitas skema kontrak bagi hasil, baik gross split maupun cost recovery, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2024.
Dengan berbagai jalur partisipasi tersebut, Indonesia berupaya memberikan ruang bagi investor untuk terlibat dalam pengembangan potensi migas yang tersedia.
Pada akhirnya, kehadiran Djoko Siswanto, Eka Bhayu Setta, dan jajaran SCM SKK Migas di Indonesia Pavilion membawa satu pesan besar: mengoptimalkan potensi hulu migas Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar sumber daya alam.
Dari Abu Dhabi, Indonesia berupaya membuka pintu bagi kolaborasi tersebut, dengan harapan peluang yang diperkenalkan di ADIPEC 2026 dapat berlanjut menjadi kerja sama nyata yang memperkuat produksi dan ketahanan energi nasional.


