Serpong, Tangerang Selatan, ruangenergi.com-Di industri gas alam cair atau LNG, angka-angka kecil ternyata bisa menentukan transaksi bernilai besar. Karena itu, laboratorium menjadi salah satu garda terpenting dalam menjaga kepercayaan bisnis energi global.
Hal tersebut disampaikan Laboratory Supervisor DSLNG, Mohd Taufiq, bersama Junior Engineer DSLNG, Indah Abdullah, dalam pemaparan mengenai implementasi ISO/IEC 17025:2017 di laboratorium PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) yang hadir dalam IPA Convex 2026 di ICE BSD, Serpong, Rabu (20/05/2026).
Menurut Taufiq, laboratorium memiliki posisi strategis karena seluruh rantai transaksi LNG dimulai dari hasil analisis komposisi gas.
“Hasil komposisi LNG ini akan menentukan heating value dan dari heating value ini akan kita hitung menjadi energi kuantiti yang pada akhirnya diubah menjadi nilai transaksi,” ujarnya dihadapan pengunjung yang menyaksikan pemaparannya di booth DSLNG, di IPA Convex ke-50.
Ia menegaskan, kesalahan kecil pada tahap analisis komposisi bisa berdampak langsung terhadap nilai jual LNG.
“Oleh karena itu, kesalahan di awal pada analisis komposisi akan menyebabkan nilai transaksi yang kurang atau lebih. Hal ini tentu tidak baik bagi bisnis LNG,” katanya.
Dalam bisnis LNG, heating value atau nilai kalor menjadi dasar utama pembayaran dari buyer. Semakin besar volume kargo LNG, semakin besar pula dampak finansial jika terjadi deviasi pengukuran.
“Kesalahan kecil dalam pengukuran dapat menyebabkan dampak finansial yang signifikan,” tegas Taufiq.
Karena itu, keandalan hasil laboratorium menjadi bagian penting dalam custody transfer kuantitas dan kualitas LNG.
Untuk menganalisis komposisi LNG, laboratorium DSLNG menggunakan instrumen gas kromatografi. Namun menjaga hasil uji tetap akurat dan presisi bukan pekerjaan sederhana.
Taufiq menjelaskan tantangan utama laboratorium berasal dari kompleksitas LNG, sensitivitas pengukuran komponen gas, tuntutan akurasi tinggi dalam proses serah terima LNG, hingga menjaga stabilitas performa alat gas kromatograf.
“Oleh karena itu, metode pengujian harus tervalidasi, performa gas kromatograf harus terkendali, kalibrasi dan traceability harus terjaga, serta ketidakpastian pengukuran harus dievaluasi secara konsisten,” jelasnya.
Laboratorium juga menjalankan pemeriksaan rutin untuk memastikan seluruh instrumen bekerja optimal.
Dalam operasional sehari-hari, laboratorium DSLNG diperkuat 10 personel dengan sistem kerja back-to-back. Lima orang bertugas secara bersamaan dan lima lainnya bergantian saat jadwal libur.
Untuk satu sampel LNG, proses analisis membutuhkan sekitar satu jam pengujian, 30 menit review, dan 30 menit penerbitan hasil dalam bentuk Certificate of Quality (CoQ).
“Total dua jam kami sudah mengeluarkan Certificate of Quality yang akan menentukan energy content dan berdampak pada faktor finansial,” kata Taufiq.
Padahal, dalam kontrak penjualan LNG, laboratorium hanya memiliki batas waktu tiga jam untuk menyerahkan CoQ kepada buyer.
Indah Abdullah menjelaskan, laboratorium DSLNG telah menerapkan ISO/IEC 17025:2017 sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap keandalan hasil pengujian.
“ISO ini memang bukan kewajiban, tetapi merupakan wujud komitmen Donggi Senoro LNG kepada buyer bahwa hasil uji kami reliable dan dapat dipercaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan ISO merupakan singkatan dari International Organization for Standardization, sementara IEC adalah International Electro Technical Commission. Adapun ISO 17025 merupakan standar internasional untuk laboratorium pengujian dan kalibrasi.
Standar tersebut menitikberatkan pada dua aspek utama, yakni manajemen dan teknis, yang diverifikasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).
“Bagi kami, akreditasi ISO 17025 sama dengan kepercayaan terhadap data laboratorium,” kata Taufiq.
Menurut Indah, manfaat akreditasi dirasakan dari tiga sisi sekaligus. Dari sisi perusahaan, akreditasi meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan serta memperkuat reputasi nasional maupun internasional.
Dari sisi laboratorium, standar tersebut mendorong tata kelola yang baik, pengurangan risiko, dan perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement.
Sementara dari sisi pelanggan, akreditasi memberikan keyakinan bahwa hasil laboratorium benar-benar akurat dan sesuai dengan skema transaksi LNG.
Laboratorium DSLNG pertama kali memperoleh akreditasi pada April 2020. Setelah menjalani audit pengawasan berkala oleh KAN, laboratorium kembali memperoleh reakreditasi pada 21 April 2025 dengan masa berlaku hingga 21 April 2030.
Dalam implementasinya, DSLNG menerapkan berbagai elemen penting, termasuk imparsialitas dan kerahasiaan data laboratorium.
Perusahaan melakukan identifikasi risiko untuk mengendalikan konflik kepentingan personel laboratorium. Seluruh personel juga diwajibkan menandatangani pakta integritas agar hasil uji tidak dipengaruhi tekanan pihak mana pun.
“Kami ingin data hasil uji yang kami berikan valid tanpa tekanan dari pihak mana pun,” ujar Taufiq.
Selain itu, DSLNG menerapkan pemisahan peran antara analis, penelaah, dan penyetuju hasil uji guna mencegah conflict of interest.
Menariknya, sebagian personel laboratorium DSLNG berasal dari wilayah sekitar operasional perusahaan seperti Luwu dan Sulawesi Selatan.
Mayoritas memiliki latar pendidikan minimal D3 Teknik, bahkan beberapa di antaranya telah menempuh pendidikan S1 dan S2.
“Mereka menjalani pelatihan yang sangat panjang sebelum mulai bekerja karena dididik dari nol,” ungkap Taufiq.
Seluruh personel laboratorium DSLNG juga telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kompetensi mereka dipantau secara berkala melalui pelatihan, tes kecakapan, monitoring performa analis, dan knowledge sharing berkelanjutan.
Jika ditemukan hasil analisis yang tidak sesuai, laboratorium akan melakukan pengambilan sampel ulang hingga akar masalah diketahui.
Sementara dalam konteks transaksi LNG, mekanisme penanganan hasil tidak sesuai juga telah diatur dalam kontrak, termasuk penggunaan acuan lima kargo terakhir.
Di balik transaksi LNG bernilai besar, laboratorium ternyata menjadi benteng utama kepercayaan. Sebab di industri ini, akurasi bukan sekadar angka, melainkan fondasi bisnis energi global.

