Dulu Dibangun Total, Kini Dipacu Pertamina! Sisi Nubi Jadi Penopang Baru Lifting Gas Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Di tengah tantangan penurunan produksi lapangan migas tua, Lapangan Gas Sisi Nubi di Delta Mahakam kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu tulang punggung pasokan gas nasional. Proyek yang telah melewati dua era pengelolaan—mulai dari operator asing hingga kini berada di tangan perusahaan nasional—terus mencatatkan tonggak penting dalam menjaga ketahanan energi Indonesia.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan bahwa PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali mencetak kemajuan melalui keberhasilan mengalirkan produksi dari dua sumur baru di Platform WPN-8. Sumur NB-802 mulai berproduksi pada 3 Juli 2026, disusul NB-801 pada 5 Juli 2026 dengan total produksi awal mencapai 20 juta standar kaki kubik gas per hari (MMscfd).

Keberhasilan tersebut menjadikan lima dari enam platform Proyek Sisi Nubi Area of Interest (AOI) 1-3-5 kini telah beroperasi. Secara kumulatif, lima platform itu telah menghasilkan sekitar 100 MMscfd gas dari 10 sumur baru, sebuah tambahan produksi yang sangat penting untuk mengimbangi penurunan alami sumur-sumur tua di Delta Mahakam.

Namun, kisah Sisi Nubi sesungguhnya dimulai jauh sebelum proyek AOI 1-3-5 dibangun.

Lapangan Sisi dan Nubi merupakan bagian dari Wilayah Kerja Mahakam yang ditemukan pada akhir dekade 1980-an dan mulai dikembangkan pada era Total E&P Indonesie, operator Blok Mahakam selama hampir lima dekade. Produksi dari kawasan ini dimulai pada 2007 dan menjadi salah satu penopang utama pasokan gas dari Delta Mahakam bersama lapangan-lapangan besar lain seperti Tunu, Peciko, Tambora, dan Handil.

Selama berada di bawah pengelolaan Total E&P Indonesie, fokus utama pengembangan adalah membuka cadangan baru dan membangun fondasi infrastruktur produksi yang menjadikan Blok Mahakam sebagai salah satu penghasil gas terbesar di Indonesia. Keberhasilan Total identik dengan fase eksplorasi besar-besaran, penemuan cadangan, serta pembangunan sistem produksi yang menopang kebutuhan energi nasional selama puluhan tahun.

Babak baru dimulai pada 1 Januari 2018, ketika pemerintah mempercayakan pengelolaan Blok Mahakam kepada PT Pertamina Hulu Mahakam setelah berakhirnya kontrak Total E&P Indonesie. Alih kelola ini menjadi salah satu transisi operator migas terbesar dalam sejarah Indonesia.

Berbeda dengan era sebelumnya yang didominasi pengembangan lapangan-lapangan baru, tantangan yang dihadapi PHM jauh lebih kompleks. Pertamina menerima blok yang telah memasuki fase mature field, di mana sebagian besar lapangan mengalami penurunan produksi alamiah. Karena itu, strategi PHM bergeser dari sekadar mempertahankan produksi menjadi melakukan optimalisasi aset, pengeboran infill, penerapan teknologi baru, dan pembangunan proyek-proyek pengembangan untuk menahan laju penurunan produksi.

Proyek Sisi Nubi AOI 1-3-5 menjadi simbol nyata strategi tersebut. Dimulai dengan kontrak rekayasa dan konstruksi pada 2023, proyek ini mencakup pembangunan enam platform baru, modifikasi tiga fasilitas eksisting, serta pemasangan sekitar 22 kilometer pipa bawah laut yang menghubungkan fasilitas baru dengan jaringan produksi Mahakam. Pengembangan ini dirancang untuk membuka 36 sumur pengembangan dengan kapasitas produksi sekitar 30 MMscfd per platform.

Yang menarik, proyek ini juga menjadi etalase penerapan teknologi baru oleh PHM. Penentuan target pengeboran memanfaatkan analisis seismik berbasis machine learning, sementara konstruksi offshore menggunakan Suction Pile Foundation, teknologi yang pertama kali diterapkan di Indonesia untuk mempercepat instalasi struktur bawah laut. PHM juga mengadopsi metode pengeboran baru yang berhasil memangkas waktu pekerjaan sekaligus meningkatkan keselamatan operasi.

Kemajuan proyek berlangsung bertahap. Platform WPS-4 menjadi yang pertama beroperasi pada Desember 2025, disusul WPS-5 pada Februari 2026, WPN-7 pada Maret 2026, WPN-6 pada Juni 2026, dan kini WPN-8 pada Juli 2026. Dengan pencapaian tersebut, tinggal Platform WPN-5 yang ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 setelah penyelesaian pekerjaan completion dan pemasangan kepala sumur.

Bagi SKK Migas, tambahan produksi sekitar 100 MMscfd dari lima platform ini bukan sekadar angka. Produksi tersebut menjadi penyangga penting agar penurunan produksi dari lapangan-lapangan Mahakam yang telah berusia puluhan tahun tidak terjadi lebih cepat.

Keberhasilan Sisi Nubi juga memperlihatkan bagaimana pengelolaan Blok Mahakam memasuki fase baru. Jika era Total E&P Indonesie dikenang sebagai masa penemuan dan pembangunan fondasi produksi, maka era Pertamina Hulu Mahakam menjadi periode pembuktian bahwa perusahaan nasional mampu mengelola lapangan migas tua dengan pendekatan teknologi, inovasi, dan investasi berkelanjutan untuk menjaga lifting migas nasional.

Dengan hanya menyisakan satu platform lagi untuk dioperasikan, Proyek Sisi Nubi AOI 1-3-5 kini menjadi salah satu proyek strategis yang memperlihatkan transformasi Blok Mahakam dari lapangan yang terus menua menjadi aset yang tetap produktif dan relevan dalam menopang ketahanan energi Indonesia.