Good News dari SKK Migas: Proyek Gas Andaman Selatan Resmi Masuk Tahap FID, Produksi 300 MMSCFD Menanti

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas nasional. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan bahwa setelah melalui berbagai dinamika, para pemegang participating interest (PI) Blok Andaman Selatan akhirnya mencapai kesepakatan untuk mengambil Final Investment Decision (FID) pada September 2026.

Dalam laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komisi Pengawas SKK Migas, dan jajaran pimpinan pada Senin (4/8/2026), Djoko mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut telah dicapai antara SKK Migas, Mubadala Energy selaku operator Blok Andaman Selatan dengan kepemilikan 80 persen PI, serta Harbour Oil sebagai pemegang 20 persen PI.

“Alhamdulillah hari ini telah terjadi kesepakatan antara SKK, Mubadala selaku operator Blok Andaman Selatan Lapangan Gas Tangkulo dan Harbour Oil mengenai keputusan FID pada bulan depan, September 2026,” ujar Djoko dalam laporannya, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Semula, keputusan investasi itu ditargetkan terealisasi pada Juni 2026. Namun, proses tersebut harus mundur sekitar tiga bulan akibat dinamika yang terjadi di Aceh, termasuk proses pengalihan kepemilikan participating interest Harbour Oil yang belum rampung.

Meski demikian, Djoko optimistis seluruh hambatan kini telah menemukan titik terang. Ia menjelaskan bahwa status wilayah kerja yang berada lebih dari 12 mil laut berada di bawah kewenangan Pemerintah Pusat. Selain itu, telah tercapai nota kesepahaman (MoU) yang memastikan keterlibatan Pemerintah Aceh sekaligus memaksimalkan penggunaan local content dalam pengembangan proyek.

Dengan tercapainya kesepakatan ini, SKK Migas berharap keputusan investasi pada September mendatang dapat berjalan sesuai jadwal tanpa penundaan lagi.

Proyek Lapangan Gas Tangkulo di Blok Andaman Selatan diproyeksikan menjadi salah satu sumber pasokan gas baru yang strategis bagi Indonesia. Saat mulai beroperasi pada 2028, lapangan ini ditargetkan mampu memproduksi sekitar 300 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) serta 7.000 barel kondensat per hari (BOPD).

Nilai investasi proyek tersebut juga diperkirakan mencapai miliaran dolar Amerika Serikat, menjadikannya salah satu proyek migas terbesar yang akan memasuki fase pengembangan dalam beberapa tahun ke depan.

Djoko menutup laporannya dengan mengapresiasi sinergi seluruh pihak yang terlibat, mulai dari SKK Migas, Mubadala Energy, Harbour Oil, BPMA, Pemerintah Aceh hingga PLN, seraya berharap proyek ini dapat berjalan lancar hingga menghasilkan tambahan produksi migas nasional.

Bagi pemerintah, keberhasilan membawa Blok Andaman Selatan menuju tahap FID bukan sekadar pencapaian investasi, tetapi juga menjadi sinyal positif bahwa proyek-proyek migas strategis nasional terus bergerak maju untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

“Bersama kita BISA. Lifting Naik: BISA… BISA… BISA!” demikian semangat yang disampaikan Djoko Siswanto dalam laporannya.