IPA Convex 2026: Setengah Abad Energi Indonesia Menatap Masa Depan, Mantap!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Setengah abad lalu, konvensi kecil para pelaku industri minyak dan gas di Indonesia mungkin belum membayangkan bahwa forum itu kelak tumbuh menjadi salah satu panggung energi terbesar di Asia Tenggara.

Kini, memasuki usia ke-50, Indonesian Petroleum Association Convex 2026 datang bukan sekadar sebagai ajang pameran industri, tetapi sebagai cermin perjalanan panjang sektor hulu migas Indonesia—sekaligus ruang untuk membaca masa depannya.

Di tengah sorotan dunia terhadap keamanan energi, gejolak geopolitik, dan perebutan investasi global, tema yang diangkat tahun ini terasa sangat relevan: “50 Years of Energy Partnership: Shaping The Next Era for Advancing Growth.”

Bagi Chairperson IPA Convex 2026, Teresita Listyani, tema itu bukan sekadar slogan seremonial ulang tahun emas. Ada pesan yang ingin ditegaskan: bahwa industri energi Indonesia tidak bisa berjalan sendiri.

“Partnership atau kemitraan menjadi sangat penting. Kami juga ingin merefleksikan apa yang sudah dilakukan selama ini, belajar dari masa lalu, sekaligus melihat tantangan dan relevansi industri hulu migas saat ini dan masa depan,” ujar Teresita.

Nada reflektif itu terasa kuat dalam rancangan program IPA Convex 2026 yang akan digelar pada 20–22 Mei 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD. Konvensi tahunan ini tidak hanya membicarakan sumur minyak, produksi gas, atau angka investasi.

Di balik panel-panel diskusi dan ruang pameran, ada upaya mempertemukan berbagai generasi dan kepentingan dalam satu percakapan besar tentang energi Indonesia.

Salah satu yang paling ditunggu adalah Plenary Session, forum utama yang akan membahas posisi Indonesia dalam pusaran geopolitik energi dunia. Ketika konflik kawasan, gangguan rantai pasok, dan transisi energi membuat banyak negara berlomba mengamankan pasokan energi, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak sederhana: menjaga ketahanan energi sambil tetap menarik investasi.

Di titik itulah IPA Convex menjadi lebih dari sekadar agenda industri. Forum ini juga menghadirkan Leadership Roundtable Talk (LRT) yang mempertemukan pejabat pemerintah, pimpinan perusahaan energi global, hingga para ahli sektor hulu migas. Nama-nama seperti Yuliot, Todotua Pasaribu, Purnomo Yusgiantoro, hingga Hilmi Panigoro dijadwalkan hadir untuk membahas strategi ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association, Marjolijn Wajong, dunia energi saat ini sedang memasuki fase yang semakin kompetitif.

“Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, serta kompetisi global membuat banyak negara memperebutkan investasi di sektor energi,” ujarnya.

Situasi itu pula yang mendorong Indonesia mengambil langkah strategis, termasuk kebijakan untuk mengutamakan pemenuhan kebutuhan minyak mentah domestik dibanding ekspor. Kebijakan tersebut, kata Marjolijn, tetap mengedepankan prinsip no gain no loss agar tidak merugikan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Namun di luar isu geopolitik dan investasi, ada sisi lain IPA Convex yang jarang terlihat: upaya membangun hubungan industri dengan masyarakat.

Tahun ini, penyelenggara menghadirkan showcase program pelibatan masyarakat dari berbagai wilayah operasi hulu migas. Program itu menjadi etalase bagaimana industri energi tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga dampak sosial dan pembangunan daerah.

Di saat yang sama, generasi muda juga mendapat ruang besar. Pelajar dan mahasiswa dilibatkan dalam berbagai rangkaian kegiatan, termasuk sesi Technical Paper—wadah lahirnya ide, riset, dan inovasi baru untuk menjawab tantangan industri migas Indonesia.

“Technical Paper menjadi embrio penting dari pemikiran dan inovasi,” kata Teresita.

Antusiasme terhadap IPA Convex pun terus meningkat. Tahun ini, lebih dari 200 eksibitor dipastikan hadir, termasuk sejumlah peserta baru dari dalam dan luar negeri. Pertumbuhan itu menjadi sinyal bahwa meski dunia energi tengah berubah cepat, Indonesia masih dipandang sebagai salah satu arena penting dalam percaturan energi global.

Bagi Teresita, di usia ke-50 ini, IPA Convex bukan hanya perayaan perjalanan panjang organisasi. Forum tersebut telah menjelma menjadi ruang advokasi dan dialog bagi isu-isu strategis sektor hulu migas Indonesia.

“IPA Convex menjadi semacam puncaknya dari hal-hal yang sudah dirintis oleh IPA sebagai organisasi. Ini menjadi platform diskusi dan advokasi berbagai isu hulu migas,” tuturnya.

Lima dekade setelah pertama kali digelar, IPA Convex tampaknya ingin menegaskan satu hal: energi bukan hanya tentang sumber daya di perut bumi, tetapi juga tentang kemitraan, keberanian beradaptasi, dan kemampuan membaca masa depan di tengah dunia yang terus berubah.