Batam, Kepri, ruangenergi.com – Kabar gembira datang dari pengembangan lapangan gas Mako di Wilayah Kerja (WK) Duyung, lepas pantai Natuna. Pipa gas sepanjang 80 kilometer yang akan menjadi bagian penting dari proyek tersebut mulai diproduksi di Batam pada Sabtu (31/10/2026).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut sebagai salah satu perkembangan penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Proyek ini diharapkan mampu memasok gas untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya pembangkit listrik di Batam dan sekitarnya.
“Alhamdulillah, produksi pipa dalam negeri sepanjang 80 km untuk proyek pengembangan lapangan gas offshore WK Duyung, Lapangan Mako Natuna, hari ini mulai diproduksi di Batam,” ujar Djoko dalam laporannya, Sabtu (31/10/2026), bercerita kepada ruangenergi.com.
Proyek pengembangan Lapangan Mako dikelola oleh konsorsium Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang terdiri dari West Natuna Exploration Limited (WNEL) Conrad dengan kepemilikan 25 persen dan PT Nation Natuna Barat sebesar 75 persen.
Menurut Djoko, proyek ini juga akan menjadi momentum penting bagi industri nasional. Selain pipa yang diproduksi di Batam, pembangunan fasilitas produksi Lapangan Mako akan memanfaatkan fasilitas yard dalam negeri, yakni PT PAL Indonesia di Surabaya dan fasilitas di Batam.
Groundbreaking proyek tersebut dijadwalkan berlangsung pada bulan depan, dengan rencana dihadiri Menteri Koordinator atau Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pengembangan Lapangan Mako mencakup sejumlah pekerjaan besar, mulai dari pemboran sumur lepas pantai Natuna, pembangunan fasilitas produksi, hingga penggelaran pipa bawah laut sepanjang 80 kilometer.
Seluruh rangkaian pekerjaan tersebut ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan. Setelah beroperasi, Lapangan Mako diproyeksikan mampu menghasilkan gas sebesar 111 juta kaki kubik standar per hari atau 111 MMSCFD.
Kehadiran produksi gas tersebut diharapkan menjadi tambahan pasokan energi yang signifikan bagi Indonesia, terutama untuk mendukung kebutuhan listrik di wilayah Batam dan sekitarnya.
Hal yang paling menarik dari proyek ini adalah perubahan arah pemanfaatan gas Mako.
Djoko menjelaskan, sebelumnya gas dari Lapangan Mako direncanakan dialirkan ke Singapura. Rencana tersebut berkaitan dengan kondisi infrastruktur yang saat itu hanya memiliki satu jalur pipa dari Natuna menuju Singapura.
Namun, setelah pembangunan pipa West Natuna Transmission System (WNTS) menuju Pulau Pemping dan Batam selesai, terbuka peluang untuk mengalirkan gas Natuna ke pasar domestik.
Atas persetujuan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seluruh produksi gas Lapangan Mako akhirnya diputuskan untuk dialokasikan 100 persen bagi kebutuhan dalam negeri.
Gas tersebut secara khusus akan mendukung kebutuhan pembangkit listrik di Batam dan sekitarnya.
Keputusan ini menjadi langkah strategis di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Pasalnya, Djoko mengungkapkan bahwa harga gas untuk pasar Singapura sebenarnya lebih tinggi dibandingkan harga yang diperoleh dari penyaluran ke pasar domestik.
Meski demikian, pemerintah memilih memprioritaskan kebutuhan energi masyarakat Indonesia.
“Namun demi NKRI, demi Merah Putih, demi masyarakat Indonesia dan sesuai Pasal 33 UUD 1945, Bapak Menteri secepat kilat mengambil keputusan seluruhnya buat Merah Putih tercinta,” ungkap Djoko.
Ia pun memberikan apresiasi kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia atas keputusan tersebut.
“Memang paten Pak Bahlil,” ujarnya.
Dimulainya produksi pipa di Batam dan rencana pembangunan fasilitas produksi di Surabaya serta Batam menunjukkan bahwa pengembangan Lapangan Mako tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi gas.
Proyek ini juga membuka ruang bagi industri nasional untuk terlibat dalam pembangunan infrastruktur migas lepas pantai.
Penggunaan fasilitas dalam negeri diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, mulai dari aktivitas industri manufaktur, jasa konstruksi, hingga penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, penyelesaian proyek Mako akan memperkuat infrastruktur penyaluran gas dari Natuna ke pasar domestik, sekaligus meningkatkan keandalan pasokan energi bagi wilayah Batam dan sekitarnya.
Djoko berharap seluruh tahapan proyek dapat berjalan lancar, aman, dan selamat hingga mencapai target penyelesaian.
Ia juga memohon dukungan dan doa agar pengembangan Lapangan Mako dapat terlaksana sesuai rencana.
“Mohon dukungan dan doa, proyek berjalan lancar, aman, dan selamat. Aamiin YRA,” tutup Djoko.
Bagi SKK Migas dan para kontraktor, dimulainya produksi pipa sepanjang 80 kilometer ini menjadi langkah awal menuju hadirnya tambahan pasokan gas nasional sebesar 111 MMSCFD.
Sebuah proyek yang tidak hanya berbicara tentang produksi gas, tetapi juga tentang bagaimana kekayaan energi Natuna dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa dan masyarakat Indonesia.


