Dari Aljazair untuk Indonesia, Pertamina Optimalkan Aset Migas Internasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pertamina memperkuat kemitraan strategis dengan pemerintah dan perusahaan energi nasional Aljazair untuk menjaga keberlanjutan operasi hulu minyak dan gas bumi (migas), sekaligus membuka peluang bisnis baru yang dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Langkah tersebut dilakukan melalui kunjungan kerja delegasi PT Pertamina (Persero) bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ke Aljazair pada 20–22 Oktober 2026. Salah satu agenda utamanya adalah memastikan keberlanjutan operasi Blok 405A, sekaligus mengoptimalkan kontribusi aset migas internasional bagi pasokan energi nasional.

Kunjungan yang berlangsung di Algiers itu dipimpin Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, bersama Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini. Turut hadir Wakil Direktur Utama PHE Virano Nasution, Direktur Utama PT Pertamina Internasional EP (PIEP) Syamsu Yudha, serta jajaran manajemen.

Pada 21 Oktober 2026, delegasi Pertamina menggelar serangkaian pertemuan dengan regulator, pemerintah, dan perusahaan minyak nasional Aljazair. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi, menjaga kelancaran operasi, dan menjajaki peluang kerja sama yang saling menguntungkan.

Perkuat kemitraan dengan regulator dan Sonatrach

Salah satu agenda penting adalah pertemuan dengan Presiden sekaligus Kepala Komite Manajemen ALNAFT, Abdelkader Cherfaoui, di kantor ALNAFT, Hydra.

ALNAFT merupakan regulator sektor hidrokarbon Aljazair. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas keberlanjutan operasi Blok 405A, koordinasi pelaksanaan program kerja, serta peluang pengembangan portofolio bisnis Pertamina di negara Afrika Utara itu.

Delegasi juga bertemu Menteri Hidrokarbon dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab, untuk membahas dukungan pemerintah terhadap kerja sama energi, dinamika pasar energi global, serta peluang kolaborasi baru yang dapat memberikan manfaat bagi Indonesia dan Aljazair.

Pertamina kemudian melanjutkan pertemuan dengan Chairman sekaligus CEO Sonatrach, Nour Eddine Daoudi, di kantor perusahaan migas nasional Aljazair tersebut.

Dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas penguatan kolaborasi di sektor hulu migas, kelancaran pasokan minyak mentah ke Indonesia, serta penjajakan peluang kerja sama baru untuk melengkapi kemitraan yang telah berjalan.

Bagi Pertamina, hubungan dengan Sonatrach memiliki arti strategis. Selain menjadi mitra dalam pengembangan bisnis energi, kerja sama tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menegaskan, kemitraan dengan Aljazair bukan sekadar hubungan bisnis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

“Indonesia dan Aljazair memiliki ikatan persaudaraan yang kuat sejak era Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika, dan hubungan ini harus terus kita jaga dan perkuat. Karena itu, kemitraan dengan Aljazair bagi Pertamina bukan sekadar hubungan komersial, melainkan kemitraan strategis jangka panjang,” ujar Oki.

Ia mengapresiasi dukungan Sonatrach, ALNAFT, serta Kementerian Hidrokarbon dan Pertambangan Aljazair terhadap keberlanjutan operasi Pertamina.

Oki menegaskan, Pertamina berkomitmen menjaga keberlanjutan operasi Blok 405A sekaligus menjajaki peluang kerja sama baru yang memberikan manfaat bagi kedua negara.

Di balik penguatan hubungan bilateral tersebut, Blok 405A menjadi salah satu fokus utama Pertamina dalam mengoptimalkan aset hulu migas internasional.

Delegasi Pertamina juga mengunjungi kantor PT Pertamina Algeria EP (PAEP) untuk mendapatkan pemaparan mengenai kinerja operasional, perkembangan kegiatan lapangan, serta tantangan yang dihadapi dalam menjalankan operasi di Aljazair.

Kunjungan dilanjutkan dengan dialog bersama para Perwira Pertamina yang bertugas di negara tersebut. Agenda ini menjadi bentuk dukungan manajemen terhadap tim operasional sekaligus memperkuat koordinasi dalam menjalankan kegiatan usaha.

PAEP memiliki peran penting dalam menjaga kinerja operasi Blok 405A, mengoptimalkan potensi produksi, serta memperkuat kontribusi aset internasional Pertamina terhadap pasokan energi nasional.

Direktur PAEP Jon Erwin mengatakan, kunjungan manajemen memberikan dukungan dan arahan strategis bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja operasional.

“PAEP berkomitmen menjalankan operasi secara aman, andal, dan efisien, sekaligus mengoptimalkan potensi produksi serta memperkuat koordinasi dengan para mitra dan pemangku kepentingan di Aljazair,” kata Jon.

Ia menambahkan, PAEP akan terus mewujudkan semangat Bring the Barrel Home melalui pengelolaan aset internasional yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PHE Virano Nasution menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan dan Sonatrach atas dukungan yang diberikan selama ini.

“Kami berkomitmen untuk terus tumbuh bersama, menciptakan nilai tambah, dan berkontribusi nyata untuk pemenuhan pasokan energi,” ujar Virano.

Penguatan kemitraan di Aljazair menjadi bagian dari strategi Pertamina dalam mengoptimalkan portofolio hulu migas di luar negeri.

Melalui PIEP, Pertamina mengelola aset dan portofolio bisnis hulu migas internasional di berbagai negara, termasuk Aljazair, Malaysia, Irak, Prancis, Italia, Tanzania, Gabon, Kolombia, dan Venezuela.

Pengelolaan aset internasional tersebut diharapkan tidak hanya memberikan nilai tambah secara komersial, tetapi juga mendukung kebutuhan energi Indonesia melalui kontribusi produksi migas dan penguatan kerja sama pasokan.

Kunjungan ke Aljazair pun menjadi momentum bagi Pertamina untuk memperkuat hubungan dengan pemerintah, regulator, dan mitra industri, sekaligus memastikan operasi Blok 405A tetap berjalan secara berkelanjutan.

Dengan sinergi yang semakin kuat, Pertamina berharap dapat membuka peluang bisnis baru, memperluas kerja sama energi Indonesia–Aljazair, dan mengoptimalkan kontribusi aset internasional bagi ketahanan energi nasional.