Djoko Siswanto Buka Strategi SKK Migas: Dari Sumur Idle hingga 18.801 Well Service

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus menggenjot produksi minyak nasional di tengah berbagai tantangan operasional, perizinan, keterbatasan rig hingga gangguan infrastruktur.

Dalam bahan paparan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026), SKK Migas memproyeksikan total produksi minyak, kondensat, NGL, sumur BKU serta kontribusi proyek NGL dan FTG mencapai sekitar 591.154 barel per hari (BOPD) sepanjang 2026.

Angka tersebut menjadi target yang dikejar melalui serangkaian langkah percepatan produksi. SKK Migas bahkan menyampaikan sejumlah kebutuhan dukungan lintas kementerian dan pemangku kepentingan agar potensi produksi yang masih tertahan dapat segera masuk ke sistem produksi.

Data SKK Migas menunjukkan, hingga 31 Juli 2026, produksi minyak tercatat 491.123 BOPD, kondensat 56.025 BOPD, dan NGL 31.008 BPD. Jika digabungkan, total produksi mencapai sekitar 578.156 BOPD.

Dengan memasukkan kontribusi sumur BKU sebesar 1.634 BPD serta proyek NGL dan FTG yang sedang berjalan sebesar 12.036 BPD, outlook produksi 2026 dipatok sekitar 591.154 BOPD.

Namun perjalanan menuju angka tersebut tidak mudah. SKK Migas mencatat sejumlah gangguan sepanjang tahun, antara lain kebocoran pipa TGI yang berdampak terhadap tujuh KKKS di Terminal Dumai dan dua KKKS pemasok gas. Pada kuartal kedua, terdapat pula planned shutdown di PHM, kenaikan GOR dan water cut di EMCL, serta persoalan kelistrikan di PHR.

Untuk mengejar produksi, SKK Migas mengidentifikasi sejumlah potensi yang dapat segera diakselerasi.

Di PHE OSES, misalnya, kebocoran pipa di Platform Yvonne menjadi salah satu kendala. Solusi yang disiapkan adalah penyediaan Temporary Storage Tank (TST) untuk menyalurkan minyak dari platform tersebut, dengan target ketersediaan pada September 2026. Potensi tambahan produksinya diperkirakan mencapai 334 BOPD.

PHE Jambi Merang juga didorong mempercepat penyelesaian proyek SKN New Train dan pengeboran empat sumur PPC. Jika proyek berjalan sesuai target, SKN New Train ditargetkan mulai onstream untuk penjualan gas pada awal September 2026, dengan potensi kontribusi yang dicatat mencapai 350 BOPD ekuivalen dalam skema percepatan yang dipaparkan SKK Migas.

Sementara itu, PHE TEJ menghadapi keterbatasan anggaran dan hanya memiliki satu rig untuk pekerjaan WO/WS. Padahal sejumlah sumur Mudi memiliki potensi tambahan produksi, antara lain Mudi 22 sebesar 200 BOPD, Mudi 27 sebesar 150 BOPD, Mudi 15 sebesar 60 BOPD dan Mudi 2A sebesar 40 BOPD.

SKK Migas juga melihat peluang dari sejumlah wilayah kerja (WK) yang masih idle.

Dalam paparan tersebut, pemerintah diminta membantu pencarian investor baru untuk WK Sepanjang, WK Seram Bula, WK West Air Komering, WK Bertak Puyuh Pijar, dan WK Bangko. Kelima wilayah kerja tersebut diproyeksikan memberikan potensi tambahan sekitar 600 BOPD.

Tak kalah penting adalah optimalisasi sumur masyarakat. SKK Migas mengusulkan percepatan persetujuan kerja sama BKU baru, substitusi sumur serta perluasan wilayah kerja, sekaligus penertiban kilang ilegal di seluruh Indonesia. Potensi kontribusi dari langkah ini diperkirakan mencapai 5.000 BOPD.

Ada “Senjata” dari Sisa Program 2026

SKK Migas juga menghitung peluang produksi dari sisa kegiatan hulu migas pada Agustus hingga Desember 2026.

Program tersebut mencakup 482 kegiatan pemboran, 358 kegiatan workover (WO), dan 18.801 kegiatan well service (WS). Jika seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana, kontribusinya diproyeksikan mencapai sekitar 4.500 BOPD.

SKK Migas juga menargetkan zero unplanned shutdown hingga akhir 2026 serta mendorong percepatan pemboran KSO/KSOT yang terkendala finansial. Selain itu, akselerasi onstream POP sumur eksisting Gembala dan SST-1 milik Texcal juga menjadi bagian dari strategi mengejar produksi.

Produksi Masih di Bawah Target APBN

Meski berbagai langkah percepatan disiapkan, data hingga 31 Juli 2026 menunjukkan produksi minyak, kondensat dan NGL nasional masih berada di bawah target lifting APBN.

Total realisasi produksi tercatat 578.156 BOPD, sementara target lifting APBN 2026 berada di level 610.000 BOPD. Artinya, masih terdapat selisih sekitar 31.844 BOPD, dengan tingkat pencapaian 94,8 persen.

Di sisi gas, realisasi salur hingga 31 Juli 2026 mencapai 5.208 MMscfd, dibandingkan target lifting APBN sebesar 5.508 MMscfd atau sekitar 94,5 persen. Outlook produksi gas 2026 diperkirakan 6.676 MMscfd dengan salur gas 5.313 MMscfd.

Dengan demikian, pesan utama Djoko dalam RDP tersebut cukup jelas: produksi nasional tidak cukup hanya mengandalkan sumur baru. Seluruh potensi yang sudah ada—mulai dari sumur eksisting, WO/WS, proyek yang hampir onstream, sumur masyarakat hingga WK idle—harus dikejar secara bersamaan.

SKK Migas menempatkan percepatan perizinan, ketersediaan rig, dukungan investasi, penyelesaian persoalan lahan serta koordinasi lintas kementerian sebagai kunci untuk membuka potensi produksi yang masih tertahan.

Targetnya pun tegas: menjaga momentum agar produksi minyak nasional bergerak menuju outlook 591.154 BOPD pada 2026.