Rahmat Wijaya: PDSI Kuat, Kunci Pertamina Jaga Kedaulatan Energi Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Indramayu, Jabar, ruangenergi.com — PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi Indonesia. Karena itu, PDSI harus diperkuat bukan hanya sebagai perusahaan penyedia rig, tetapi sebagai pusat kompetensi drilling Pertamina.

Hal tersebut ditegaskan Rahmat Wijaya, Ketua Umum Serikat Pekerja Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI), dalam Sarasehan Energi bertema “Memperkuat Peran Pertamina Drilling dalam Menjaga Ketahanan Energi Indonesia” yang digelar bertepatan dengan HUT ke-16 SP PDSI di Indonesia Drilling Training Center (IDTC), Indramayu. Ruangenergi.com hadir di acara tersebut.

Rahmat mengatakan, perjalanan 16 tahun SP PDSI telah diwarnai berbagai transformasi. Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen pekerja untuk memperkuat perusahaan dan Pertamina.

“Perusahaan adalah tempat kita bekerja dan harus kita perkuat,” ujar Rahmat.

Menurutnya, perusahaan yang kuat membutuhkan pekerja yang kompeten, terlindungi, sekaligus memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap perusahaan.

Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan di tengah proses transformasi dan streamlining yang sedang berlangsung di lingkungan Pertamina.

Rahmat menegaskan, pekerja tidak pernah takut terhadap perubahan. Namun, perubahan harus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, serta menciptakan nilai bagi perusahaan.

“Transformasi atau streamlining harus memastikan bahwa kapabilitas strategis yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak melemah, tetapi harus diperkuat,” tegasnya.

Drilling Bukan Sekadar Soal Rig

Salah satu kapabilitas strategis yang menurut Rahmat harus dijaga adalah kemampuan Pertamina di bidang drilling.

Ia mengingatkan, bisnis pengeboran tidak boleh hanya dilihat dari jumlah rig yang dimiliki atau dioperasikan.

“Di balik setiap rig kita yang beroperasi, ada kompetensi, ada pengalaman, ada keberlanjutan produksi serta ada ketahanan energi di sana,” katanya.

Karena itu, Rahmat melihat keberadaan IDTC memiliki arti penting bagi masa depan PDSI dan Pertamina.

Menurut dia, masa depan drilling bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak rig yang beroperasi, tetapi terutama oleh seberapa kompeten sumber daya manusia yang dimiliki.

“Seberapa kompeten drilling engineer yang kita lahirkan dari sini, seberapa kompeten rig superintendent dan tool pusher yang kita lahirkan dari Indonesia Drilling Training Center. Inilah aset yang harus kita jaga,” ujarnya.

Dari sinilah SP PDSI mendorong agar PDSI semakin diperkuat sebagai pusat kompetensi drilling Pertamina.

“PDSI bukan hanya perusahaan yang menyediakan rig. PDSI harus semakin kuat dalam menguasai people, technology, equipment, knowledge, dan operational excellence di bidang drilling dan well services,” tutur Rahmat.

Pekerja Harus Bertanya: Apa Kontribusi Kami?

Rahmat juga mengajak pekerja melakukan introspeksi pada momentum HUT ke-16 SP PDSI.

Menurutnya, sudah saatnya paradigma hubungan pekerja dan perusahaan tidak hanya berorientasi pada pertanyaan mengenai apa yang diberikan perusahaan kepada pekerja.

“Kita tidak lagi bertanya apa yang diberikan perusahaan buat kita. Tapi kita harus bertanya apa yang pekerja berikan untuk membuat perusahaan kita semakin kuat?” katanya.

Ia menegaskan, pekerja harus mampu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pihak yang menjaga perusahaan tetap berjalan, tetapi juga mampu membawa perusahaan menjadi lebih kompetitif dan menciptakan nilai yang lebih besar bagi Pertamina.

Siap Jadi Mitra Strategis dan Kritis

Dalam menghadapi transformasi Pertamina, SP PDSI menyatakan siap menjadi mitra strategis sekaligus kritis bagi manajemen.

Rahmat mengatakan, SP PDSI mendukung perubahan yang menciptakan nilai dan efisiensi yang benar-benar meningkatkan daya saing.

Namun, ia mengingatkan agar setiap agenda reformasi tetap memperhitungkan keselamatan operasi, keberlangsungan bisnis, kompetensi strategis, serta keberlanjutan pekerja.

“Kita mendukung perubahan yang menciptakan nilai. Kita mendukung efisiensi yang benar-benar meningkatkan daya saing,” tegasnya.

“Namun kita juga akan terus mengingatkan bahwa setiap ada reformasi harus mempertimbangkan keselamatan operasi, keberlangsungan bisnis, perlindungan kompetensi strategis, serta keberlanjutan para pekerjanya.”

Bagi Rahmat, persoalan PDSI bukan sekadar mengenai perubahan bentuk organisasi. Lebih besar dari itu, yang dipertaruhkan adalah kemampuan Pertamina mempertahankan dan memperkuat kapasitas pengeboran nasional.

“Yang kita bicarakan bukan sekadar bentuk organisasi. Yang kita bicarakan adalah bagaimana menjaga dan memperkuat kemampuan Pertamina dalam melakukan pengeboran demi kedaulatan energi Indonesia,” tandasnya.

Rahmat pun mengajak seluruh pekerja untuk menjaga Pertamina melalui kinerja, profesionalisme, keselamatan, integritas, dan persatuan.

Sebab, menurut dia, PDSI yang kuat bukan hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia.

Di penghujung sambutannya, Rahmat menyampaikan pesan yang menggambarkan semangat SP PDSI:

“PDSI kuat, Indonesia berjaya.”